Home > Rohani > Ramadhan: Sebuah Kilas Balik dan Cermin Masa Kini
Oct
07

Ketika gema datangnya bulan Ramadhan mulai terdengar, seluruh umat muslim di dunia tersenyum bahagia menyambut bulan yang paling mulia ini. Pancaran sinar kebahagiaan menyambut bulan Ramadhan semasa kecil kembali menguak. Masa Kecil? Lho, saat ini?

Masih teringat bagaimana rasa bahagia menyelimuti sekujur tubuh ketika bulan Ramadhan akan datang. Bahkan rasa itu sudah datang sebulan sebelumnya. Keinginan untuk ibadah, kebersamaan bersama keluarga disaat sahur dan berbuka puasa, berjalan-jalan dan bermain dengan teman sebaya sehabis imsak dan sebelum tarawih, menikmati hari libur selama seminggu penuh diawal puasa, dan yang paling ditunggu penyambutan hari raya idul fitri dengan pakaian baru, limpahan makanan, dan uang pemberian sanak saudara.


Menginjak masa remaja, rasa bahagia pun belum luntur dari ingatan. Bahkan, rasa itu bertambah dengan banyaknya kumpul bersama teman sekolah dan tetangga dengan diadakan buka bersama. Pengertian akan hakikat ibadah di bulan suci pun semakin besar. Tujuan berpuasa semakin dipertegas. Dan hari-hari batalnya puasa semakin jauh berkurang. Kekuatan yang datang dari dalam diri ini rupanya sanggup mengusir berbagai godaan untuk tidak membatalkannya. Dan masa-masa ini dianggap saat yang paling indah dalam menjalani puasa.

Beranjak dewasa, memasuki masa kuliah dan pemikiran yang lebih luas, ternyata tidak diikuti dengan peningkatan rasa bahagia dalam menyambut bulan suci ini. Datangnya bulan Ramadhan mulai terasa berkurang greget-nya. Walaupun niat ibadah tidak luntur, namun dalam menjalani hari-hari bulan ramadhan seakan biasa-biasa saja. Tidak ada lagi permainan ‘tembak nama’ sehabis imsak dengan kawan disekitar rumah, sudah tidak ada lagi permainan ‘bleguran’ dengan sebongkah bambu dan sebotol minyak tanah. Tidak semangat lagi untuk jalan-jalan mengitari komplek untuk sekedar menonton permainan petasan. Saat itu, setelah imsak hanya ada keinginan untuk mengganti waktu tidur yang hilang karena harus bangun sahur. Kembali bangun ketika matahari sudah mulai meninggi dan meneriakkan terik panasnya. Kejadian ini hampir selalu berulang setiap hari, terutama dihari libur.

Kini, ketika masa remaja sudah hampir hilang dari ingatan, ketika nafkah sudah datang dengan keringat sendiri, ketika pemikiran sudah lebih jauh menerawang, semua rasa bahagia menyambut bulan suci Ramadhan justru semakin pudar. Menjalani hari-hari berpuasa serasa biasa saja. Hampir tidak ada yang berubah. Bahkan, semenjak 3 tahun lalu, sudah jarang melakukan sholat tarawih di mesjid. Dengan aktivitas harian yang kadang berbarengan dengan waktu buka puasa dan tarawih membuat kebersamaan buka puasa dengan keluarga di rumah pun menjadi berkurang. Tarawih menjadi sering terlewatkan. Hanya buka puasa bersama yang masih sering diikuti.

Diawal bulan Ramadhan tahun ini, terbersit keinginan untuk merubah segala rasa, niat, dan aktivitas bulan ini untuk kearah yang lebih baik. Semoga dibulan ini penyucian diri dan hati bukan hanya sekedar kata… Amien!

4 Responses to “Ramadhan: Sebuah Kilas Balik dan Cermin Masa Kini”

  1. October 9th, 2005 at 14:34 | #1

    Duh, sama nih..

    Ramadhan kurang bumbu :(

    Musti banyak ikut pengajian nih biar ruh ramadhan balik lagi

  2. November 18th, 2005 at 09:50 | #2

    nice thought bro’…..

  3. September 16th, 2006 at 15:36 | #3

    semangat bro! Insya Allah, Allah pasti membantu kita.

  4. lizawati.R
    September 21st, 2006 at 10:17 | #4

    Assalamualaikum…
    semangat!!!!sambut bulan suci raamdhan.bulan penuh berkah, bulan penuh pengampunan n soon
    jadikan ramadhan kali ini menjadi momen tu’ penyucian diri kita.

Add reply