HEY, Stop Di Belakang Garis Putih!

Semenjak adanya kasus HD dengan Ibu Sarie beberapa waktu lalu, berbagai milist dan forum yang saya ikuti banyak membahasnya. Tidak ketinggalan pula di milist dan web HTML. Komunitas dimana saya masih tergabung di dalamnya. Pro dan kontra pun mengalir deras dari setiap member. Pagi ini, saya pun masih menerima email terkait masalah HD. Tanggapan dari seseorang yang mengaku sebagai wartawan tabloid motor ini lebih mengungkap pandangan dari dua sisi. Kebetulan beliau juga seorang biker yang juga pengendara mobil. Ada satu paragraf yang menjadi perhatian saya.

Saya salut kepada rekan bikers klub Tiger yang memberi contoh di jalan untuk berhenti di belakang garis batas stop traffic light. Mereka bahkan berani menegur sesama pengendara motor yang tidak tau aturan. Ayo, siapa lagi? Mereka bisa, kita juga pasti bisa. Hanya perlu niat doang kok.

Disana tersebut sebuah klub tiger. Sebagai pengendara motor tiger yang ikut aktif menggalakkan safety riding dalam komunitas HTML tentu saya bangga bila ada pihak yang mengatakan salut terhadap apa yang kami lakukan.

Berdasar pengalaman, ternyata sangat sulit menerapkan safety riding. Sering sekali adu argumen dengan rekan, saudara, atau keluarga hanya untuk mengungkapkan idealisme kita pada penerapan safety riding. Contoh kecil pemakaian helm pada boncenger, tidak naik trotoar, atau berhenti di belakang garis putih pada saat lampu merah menyala. Walau sekali waktu ada pengendara lain yang memberikan acungan jempol ketika melihat saya berhenti di belakang garis sementara yang lain menunggu jauh di depan.

Namun, selama lebih dari dua tahun saya berusaha menerapkan kebiasaan ini pada diri pribadi, baru kemarin sore mengalami kejadian yang sangat mengesalkan.

Sore itu, menempuh perjalanan pulang dari Patung Tani menuju Kalimalang. Tepat di perempatan lampu merah Otista, lampu merah menyala. Saya menghentikan kendaraan tepat di belakang garis putih. Seperti biasa, beberapa motor tetap melesak kedepan dan berhenti jauh melewati garis. Sepertinya hanya saya seorang yang berhenti pada posisi itu. Tidak lama terlihat di kaca spion sebuah metromini yang bergerak semakin mendekat di belakang. Mungkin karena melihat saya tidak bergerak ke depan, supir mulai memain-mainkan gasnya untuk mengintimidasi agar saya agak maju ke depan. Dengan cuek saya tetap berhenti dan tidak menggubris angkutan umum yang lumayan besar itu. Melihat keadaan ini, sang kernet menghampiri saya dan berkata, “Mas, maju sedikit ke depan, kita mau lewat.”

Bah!
Apa dia tidak lihat lampu itu merah menyala? Atau memang mereka biasa menerobos lampu merah? Saat itu saya membalas,”Emang boleh jalan terus?!” sambil menunjuk ke arah lampu. Kernet tidak mau mengalah. Dia terus memaksa saya untuk geser ke depan dan membiarkan mereka menerobos lampu merah. Saya pun tetap pada pendirian dengan menaikkan intonasi sambil terus menunjuk lampu merah yang masih menyala. Dengan kondisi lelah macet dan pulang kerja sore itu saya jadi bertambah kesal dengan kelakuan metromini ini. Dan sudah siaga apabila kejadian terburuk dari kernet itu muncul.

Mungkin kesal melihat kelakuan saya, dia menghampiri supir yang menunggu di belakang. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas saat itu lampu hijau akhirnya menyala. Dan saya langsung tancap gas dan jalan terus. Untung sudah hijau, sehingga masalah tidak menjadi lebih panjang.

23 thoughts on “HEY, Stop Di Belakang Garis Putih!

  1. akhh… TUOB memang pria melayu!!
    Aturan sikat aja tuh kernet, kl lu takut biar gw pasang badan.
    Dia gak mungkin suku makan suku!!

    *upss batak bukan?* hayayayaya

  2. eh, gw selalu begitu loh… :D
    dan udah sering kejadian kaya elu… :D

    dan di bali…
    kalo ga dibelakang garis putih
    kena tilang! hihihi

  3. hehe.. iya sih, kadang2 susah buat nerapin safety riding klo yang lainnya juga masih pada cuek, baidewei, kenapa ngga disikat aja tu kenek hihihi… mereka aja sering semaunya klo ngetem ampe bikin macet cet!

    *didat sekarang di cina???*

  4. nasib di indo emang gitu
    kalau kita berada paling depan, yang belakang selalu nyeruduk mau duluan
    padahal posisi kita udah bener

  5. Saya salut kepada rekan bikers klub Tiger yang memberi contoh di jalan untuk berhenti di belakang garis batas stop traffic light. Mereka bahkan berani menegur sesama pengendara motor yang tidak tau aturan. Ayo, siapa lagi? Mereka bisa, kita juga pasti bisa. Hanya perlu niat doang kok.

    ehem ehem…
    narik2x kerah keatas..
    ehem..

  6. saya salut kepada rekan bikers klub Tiger yang memberi contoh di jalan untuk berhenti di belakang garis batas stop traffic light. Mereka bahkan berani menegur sesama pengendara motor yang tidak tau aturan. Ayo, siapa lagi? Mereka bisa, kita juga pasti bisa. Hanya perlu niat doang kok.

    hm…gua masih meragukan. biasanya tiap kalo wikend malem (di djakarta) gua kalo ketemu rombongan macan, mereka yang se-enaknya aja klakson2 berisik, bunyi-in sirine, dan ketika ngebalap kaki-nya diarahken ke kendaraan yang dibalapnya (seolah-olah kaki=lampu sen) *sigh*

    tapi tu-tambs lah..buat ELOH yg bisa mencontohkan denganbaikdanbenar.

  7. halah sama kasusnya, gua juga disuruh maju2 sama kopami.
    padahal dah jelas2 masih merah & masa gua disuruh miring2 gitu, emangnya dia siapa ngatur2 hehehe

  8. Yup.. karena semua tanda selalu diikuti oleh orang di belakangnya, sehingga semua rombongan akan mengerti bahwa ada halangan di depan…

    Penggunaan kaki ini pernah juga mengundang kontroversi mengingat salah penafsiran dengan disangka arogan, akan menendang, dsb. Beberapa komunitas mulai berdiskusi utk mencari kemungkinan penggantian signal dengan kaki ini.

  9. Boku_baka…
    gak ada yang ngelarang masuk HTML. Lagian itu juga termasuk komunitas online koq. jalan2 aja dulu di web-nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>