“Gimana? Udah isi?”
“Udah ada hasilnya belum?”
“Tokcer, nggak?”
“Udah jalan berapa bulan?”
Dsb, dsb..
Berbagai jenis pertanyaan yang kerap kali keluar dari banyak rekan yang menanyakan kabar kehidupan setelah berumah tangga. Dari yang paling edan bertanya pada hari kedua setelah saya menikah, sampai kemarin sore masih ada saja yang menanyakan hal serupa. Dan jawabannya pun saya berikan beragam.
“Masih proses, Mbak.”
“Doanya yaa, Pak.”
“Ajarin donk, Tante..
”
Dsb, dsb
Apa yang terpikirkan saat itu, jadilah jawaban yang keluar dari mulut saya. Hampir bosan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa. Apalagi bila yang ‘ditunggu’ tak kunjung datang. Walau belum sampai tahap yang mengkhawatirkan, namun tetap saja hal itu kepikiran. Berbagai ‘usaha’ pun harus ditempuh. Mengurangi aktivitas yang melelahkan, menghindari stress, sambil menamatkan gaya kamasutra.. *Lho?!*
Minggu lalu, saya mendapat kabar bahwa si dia sudah telat datang bulan lebih dari sepuluh hari. Dan kemarin juga sudah mengalami gejala mual sehabis melahap sepiring nasi. Walau belum minta yang aneh-aneh (baca: ngidam), dari dua tanda sebelumnya, saya membeli test kehamilan pribadi bermerk Sensitive *SPAM*, sebelum memeriksakan ke dokter.
Dengan berbekal panduan yang ada di kemasan, sedikit kesalahan merendam dengan bercampur bingung, akhirnya strip keluar juga. Hasil ini keluar lebih dari 1/2 jam setelah digunakan. Mungkin karena kesalahan pemakaian diawal tadi. Dua strip warna merah muda itu tampil perlahan tapi pasti. Sambil mengucek-ucek mata karena belum terlalu percaya, terus memandangi dua strip yang memang sangat diharapkan itu. Dan benar-benar bergembira ketika tampilan strip semakin nyata dan jelas terpampang disana. Alhamdulillah!
Semoga pemeriksaan dokter nanti mendapatkan hasil yang sama. POSITIF!