Home > BlogMe > Isi Kepala Bos
Apr
24

Isi Kepala Bos

Belakangan ini, suasana kantor membuat saya sering bertanya-tanya sendiri. Segalanya seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Jungkir balik dari keadaan semula. Kadang mendekat, kemudian lari menjauh. Hilir mudik tak tentu arah. Entah sudah berapa minggu kondisi ini berlangsung. Yang jelas, saya mulai memikirkannya sejak seminggu yang lalu.

Tahun lalu, sebuah penerbit kartu kredit terkenal di negara Paman Sam bergabung. Dan sejak itu, saya memiliki dua orang bos. Bos pertama, lebih dari setahun telah setia ‘menyuruh’ saya. Sebut saja namanya Bences. Sebenarnya beliau ini berada dua level di atas saya. Karena orang yang satu level di atas saya mengundurkan diri, dia langsung ambil alih tampuk pimpinan. Bos kedua, datang dari penerbit kartu kredit yang baru bergabung. Dia ini memang diposisikan sebagai pengganti bos lama yang mengundurkan diri. Sebut saja namanya Ances.

Awalnya, saya senang dengan keberadaan si Ances. Dia terlihat fair dalam mengkoordinasikan bawahannya. Jalan pikirnya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Supel dan hampir humoris. Hampir. Sifatnya seperti kebalikan dengan si Bences. Bences ini orangnya pikun, paranoid, pelit, dan hampir tidak menghargai pendapat bawahan.

Pada semester pertama, kedua bos ini sangat ‘baik’ kepada saya. Minimal, terlihat dari nilai maksimal yang diberikan pada saat PA awal tahun ini. Saya seperti sudah mendapatkan momentum itu. Segalanya seperti berjalan sesuai rencana. Hasilnya, kenaikan gaji maksimal, bonus lebih dari karyawan lain, dan kenaikan pangkat terjadi bulan lalu. Mimpi saya selama bekerja kurang lebih lima tahun seakan tercapai. Jalan luas seperti terbuka membentang di depan saya. Yaaa, momentum itu telah datang…

Tiba-tiba, di bulan ini, segalanya berubah. Hampir setiap hari saya tidak mendapat ‘teguran’. Komunikasi seakan terputus. Tidak ada pertanyaan seputar pekerjaan dan perkembangan team. Bahkan, saya seperti tidak mengenalnya.

Coba runut ke belakang. Hampir tidak ada kesalahan yang saya temukan. Tidak di diri sendiri, maupun dalam team. Bahkan perkembangan hasil terlihat meningkat. Segalanya terlihat baik-baik saja. Namun, saya masih merasa ada yang salah dengan keadaan ini. Sampai posisi duduk -yang baru diubah- sempat menyita perhatian. Diskusi dengan team, saya pun mendapat gambaran yang sama. Jelas kedua bos ini seperti lari menjauh.

Ah, saya menyerah. Biarlah mereka dengan gayanya, dan saya kerjakan pekerjaan ini dengan dengan gaya saya. Terserahlah bagaimana mereka bersikap. Yang penting kerjaan bisa selesai dengan hasil yang baik. Sukur-sukur hasilnya istimewa.

Hari ini segalanya kembali berubah. Kedua bos seakan berbalik lagi ke arah saya. Lagi-lagi mereka menampakkan keramahan seperti sedia kala. Senyumnya kembali keluar. Dengan santainya juga diskusi perkembangan departemen seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sikap cuek yang ditunjukkan belakangan seperti mimpi belaka. Hampir tiada bekas.

Segalanya berubah tanpa alasan yang jelas. Bos yang aneh!

7 Responses to “Isi Kepala Bos”

  1. April 24th, 2007 at 19:03 | #1

    si boss masih terima anak buah baru ga yah..? :”>

  2. April 25th, 2007 at 05:25 | #2

    cuek ama 2 bos itu

    makan2nya mana?

  3. April 25th, 2007 at 06:53 | #3

    naek pangkat naek gaji tanpa makan-makan adalah tindakan kriminilitis

  4. Azil
    April 25th, 2007 at 09:57 | #4

    MAKAN2
    #tub: waktu elo pindahan, blom ada acara makan2. besok, kalo gag ada lagi INJEK2 TUB

  5. April 26th, 2007 at 13:43 | #5

    dejavu

  6. DezZ
    May 3rd, 2007 at 15:53 | #6

    kalo mreka berbalik lagi ke arah lu, brarti naik pangkat lagi dunk!

  7. ela
    May 9th, 2007 at 11:18 | #7

    emangnya d*****n masih ngebagiin bonus?
    udeh… pindah wae, udah ga cihuy disono

Add reply