Home > BlogMe > Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi
Nov
07

Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi

Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi latar belakang Ciujung dijadikan nama kereta listrik untuk jalur Serpong-Tanah Abang. Yang pasti, nama Ciujung menjadi penting, karena keberadaannya telah memberi warna tersendiri dalam kisah hidup saya. Kereta yang disebut dengan kelas ekonomi AC ini, sudah menjadi alat transportasi utama sehari-hari. Melepaskan identitas ‘biker’ yang pernah melekat selama beberapa tahun terakhir.

Dengan jarak rumah dan kantor yang tidak bisa dibilang dekat, saya nyaris ‘tobat’ dari dunia roda dua sebagai transportasi andalan. Pinggang pegal, tangan ngilu, stress macet, dan sumpah serapah kepada pengendara angkot, mulai saya lupakan. Sekitaran bulan Maret 2009, saya melirik transportasi publik yang berjalan di rel. Mencoba beberapa kereta dan beberapa jadwal, akhirnya saya konsisten di KRL Ciujung pagi yang berangkat pukul 07.30, dari stasiun Sudimara. Pulangnya, masih bervariasi. Tergantung selesainya pekerjaan kantor. Namun, rata-rata masih sering menggunakan Ciujung malam.

Yang menarik dari Ciujung pagi adalah jam-nya yang pas dengan jadwal aktivitas kantor. Tidak terlalu pagi, dan tidak terlalu siang. Harga yang lebih murah dari Express dengan fitur yang nyaris sama juga menjadi alasan. Walau KRL ini berhenti di setiap stasiun, bukan masalah berarti bagi saya. Waktu yang dibutuhkan dari Sudimara – Tanah Abang hanya sekitar 20 menit. Sebagai pengumpan, saya masih menggunakan motor dari rumah ke stasiun yang jaraknya sekitar 5 km. Dari stasiun ke kantor, masih naik angkot, yang jaraknya juga tidak terlalu jauh.

Warna lain dalam KRL ini adalah ketika penumpang yang naik jumlahnya agak membludak. Rebutan masuk di pintu favorit, mencari tempat yang strategis, dan goyangan asik bila kereta mulai berjalan. Beruntung bila kita berdiri dekat pegangan yang disediakan. Tapi bila kita hanya berada di posisi yang jauh dari pegangan, terpaksa meraih apa saja agar tubuh labil saat bergoyang, tidak jatuh. Keakraban penumpang yang konsisten berada di gerbong tertentu, akan semakin solid di sini. Yang tadinya hanya kenal muka, tatap mata, saling jaga di saat goyah, berubah menjadi kenal nama, lokasi kerja, tempat tinggal, sampai account facebook. Hmmm, well,.. ini yang paling menarik dari Ciujung… ;-)

Perjalanan menjadi semakin asik. Pertukaran informasi mulai deras mengalir. Menjadi lebih kenal satu sama lain. Kini, kebosanan perjalanan sudah hilang. Keresahan menghadapi tugas kantor sirna saat itu. Hanya senyum dan tawa yang menghiasi. Kelakar dan canda sesekali. Melupakan keluh dan kesah, sambil merajut tali kebersamaan, teman satu rel.

Jadi, walau baru beberapa waktu saja aktivitas ini melengkapi hidup, berat rasanya bila suasana akan berbeda kelak.

3 Responses to “Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi”

  1. November 10th, 2009 at 15:12 | #1

    kereta api listrik? kalo pas lagi ada pemadaman bergilir gmn tuh? :D

  2. just m3
    December 3rd, 2009 at 10:31 | #2

    bknnya skrg suasana di kreta dah berubah…gak ada lagi yg bcanda2 pada sibuk dgn hp masing2 dan saling diam…

  3. no3
    February 4th, 2010 at 04:39 | #3

    wah, kisahnya sm bgd ky gw….cm klo gasalah gw sih baru dbln oktober mulainya. gw jg seneng naek Ciujung, soalnya tiba2 aj gw dpt motivasi baru pergi kkantor….tp gw ga sberuntung elo, ad 1 org yg smp skrg gw penasaran bgd pgn tau namanya, tp gbsa2…pdhl setiap hari selalu bsebelahan…yah begitulah. tetep Ciujung 4ever dah :D

Add reply