<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[BY]onicS &#187; BlogMe</title>
	<atom:link href="http://budiyono.com/category/blogme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiyono.com</link>
	<description>...not just imagining...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Jun 2010 05:36:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi</title>
		<link>http://budiyono.com/2009/11/ciujung-tujuh-tiga-puluh-pagi/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2009/11/ciujung-tujuh-tiga-puluh-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 07:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi latar belakang Ciujung dijadikan nama kereta listrik untuk jalur Serpong-Tanah Abang. Yang pasti, nama Ciujung menjadi penting, karena keberadaannya telah memberi warna tersendiri dalam kisah hidup saya. Kereta yang disebut dengan kelas ekonomi AC ini, sudah menjadi alat transportasi utama sehari-hari. Melepaskan identitas &#8216;biker&#8217; yang pernah melekat selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi latar belakang Ciujung dijadikan nama kereta listrik untuk jalur Serpong-Tanah Abang. Yang pasti, nama Ciujung menjadi penting, karena keberadaannya telah memberi warna tersendiri dalam kisah hidup saya. Kereta yang disebut dengan kelas ekonomi AC ini, sudah menjadi alat transportasi utama sehari-hari. Melepaskan identitas &#8216;biker&#8217; yang pernah melekat selama beberapa tahun terakhir.</p>
<p>Dengan jarak rumah dan kantor yang tidak bisa dibilang dekat, saya nyaris &#8216;tobat&#8217; dari dunia roda dua sebagai transportasi andalan. Pinggang pegal, tangan ngilu, stress macet, dan sumpah serapah kepada pengendara angkot, mulai saya lupakan. Sekitaran bulan Maret 2009, saya melirik transportasi publik yang berjalan di rel. Mencoba beberapa kereta dan beberapa jadwal, akhirnya saya konsisten di KRL Ciujung pagi yang berangkat pukul 07.30, dari stasiun Sudimara. Pulangnya, masih bervariasi. Tergantung selesainya pekerjaan kantor. Namun, rata-rata masih sering menggunakan Ciujung malam.<br />
<span id="more-192"></span><br />
Yang menarik dari Ciujung pagi adalah jam-nya yang pas dengan jadwal aktivitas kantor. Tidak terlalu pagi, dan tidak terlalu siang. Harga yang lebih murah dari Express dengan fitur yang nyaris sama juga menjadi alasan. Walau KRL ini berhenti di setiap stasiun, bukan masalah berarti bagi saya. Waktu yang dibutuhkan dari Sudimara &#8211; Tanah Abang hanya sekitar 20 menit. Sebagai pengumpan, saya masih menggunakan motor dari rumah ke stasiun yang jaraknya sekitar 5 km. Dari stasiun ke kantor, masih naik angkot, yang jaraknya juga tidak terlalu jauh.</p>
<p>Warna lain dalam KRL ini adalah ketika penumpang yang naik jumlahnya agak membludak. Rebutan masuk di pintu favorit, mencari tempat yang strategis, dan goyangan asik bila kereta mulai berjalan. Beruntung bila kita berdiri dekat pegangan yang disediakan. Tapi bila kita hanya berada di posisi yang jauh dari pegangan, terpaksa meraih apa saja agar tubuh labil saat bergoyang, tidak jatuh. Keakraban penumpang yang konsisten berada di gerbong tertentu, akan semakin solid di sini. Yang tadinya hanya kenal muka, tatap mata, saling jaga di saat goyah, berubah menjadi kenal nama, lokasi kerja, tempat tinggal, sampai account facebook. Hmmm, well,.. ini yang paling menarik dari Ciujung&#8230; <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Perjalanan menjadi semakin asik. Pertukaran informasi mulai deras mengalir. Menjadi lebih kenal satu sama lain. Kini, kebosanan perjalanan sudah hilang. Keresahan menghadapi tugas kantor sirna saat itu. Hanya senyum dan tawa yang menghiasi. Kelakar dan canda sesekali. Melupakan keluh dan kesah, sambil merajut tali kebersamaan, teman satu rel.</p>
<p>Jadi, walau baru beberapa waktu saja aktivitas ini melengkapi hidup, berat rasanya bila suasana akan berbeda kelak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2009/11/ciujung-tujuh-tiga-puluh-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nostalgia Kereta Listrik Jakarta &#8211; Bogor</title>
		<link>http://budiyono.com/2008/08/nostalgia-kereta-listrik-jakarta-bogor/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2008/08/nostalgia-kereta-listrik-jakarta-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 04:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Sejak akhir 2001, setelah lulus kuliah, nyaris saya tak pernah lagi menggunakan jasa transportasi KRL Jakarta – Bogor. Transportasi umum yang diandalkan karena kecepatan waktu tempuhnya (bebas macet), daya angkut yang lebih banyak, juga harga yang murah untuk membeli tiketnya. KRL ini dulu menjadi angkutan sehari-hari saya dari rumah ke kampus yang berada di bilangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak akhir 2001, setelah lulus kuliah, nyaris saya tak pernah lagi menggunakan jasa transportasi KRL Jakarta – Bogor. Transportasi umum yang diandalkan karena kecepatan waktu tempuhnya (bebas macet), daya angkut yang lebih banyak, juga harga yang murah untuk membeli tiketnya. KRL ini dulu menjadi angkutan sehari-hari saya dari rumah ke kampus yang berada di bilangan Depok. Dengan rumah saya berada di Jakarta Timur, KRL memang menjadi pilihan yang paling pas.</p>
<p>Selain fitur standar yang ditawarkan KRL, banyak sekali kenangan yang teringat selama menggunakan transportasi rakyat tersebut. Dari kenangan lucu, sedih, romantis, senang, dan pengalaman lain yang tak terlupakan hingga kini.</p>
<p>Hari ini kebetulan saya melakukan ritual rutin pada kendaraan saya di bengkel yang berada di sekitaran Lenteng Agung. Dan, pada waktu yang sama, saya juga harus ke kantor untuk sedikit keperluan. Kantor saya berada di Patung Tani, dekat stasiun Gondangdia. Dengan kondisi ini, angkutan umum yang paling pas adalah dengan naik kereta. Selain agar waktu lebih cepat, juga untuk membangkitkan kembali kenangan lama jaman kuliah dulu. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-134"></span><br />
Sampai di stasiun Tanjung Barat, suasana kental sebuah stasiun masih terlukis jelas. Selain beberapa calon penumpang, petugas penjaga karcis, ada beberapa pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang sisi stasiun. Yang menarik, dulu saya beberapa kali mendapat <em>update</em> lagu-lagu baru justru dari pedagang kaset/CD yang ada di stasiun. Termasuk beberapa pengamen yang hilir mudik di dalam kereta. Kadang, dari lagu yang mereka putar atau mainkan, saya tertarik dengan beberapa lagu yang tidak saya kenal sebelumnya. Biasanya, saya tanyakan teman sebelah saya, atau langsung ke pedagangnya. Dari situ, baru saya cari kasetnya untuk koleksi.. hihihi</p>
<div align="center"><img src="http://www.geocities.com/byonics/GaleriBlog/train.jpg" alt="Train" /></div>
<p>Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya kereta yang dinanti tiba. Hmm, hari Sabtu seperti ini ternyata penumpang kereta tetap penuh. Namun, masih jauh lebih lega dibanding jam-jam pergi dan pulang kantor di hari biasa. Saya mengalaminya selama lebih dari satu tahun. Pasalnya, saya sudah bekerja sebelum lulus. Dan dengan posisi kantor dan kampus yang berada pada jalur kereta, penggunaan jasa kereta listrik terasa lebih efisien. Penuh dan berjubelnya penumpang pada jam pulang kantor, sangat tidak bisa ditolerir. Benar-benar angkutan yang tidak nyaman. Hanya kecepatan waktu tempuh yang saya harapkan waktu itu. Nyaris setiap kali saya berada di dalam kereta, saya selalu berjanji untuk tidak naik kereta lagi. Tapi lucunya, besok hari, saya kembali naik kereta itu. Dan seterusnya.. Hehehe</p>
<p>Baru dua stasiun saya lewati, Pasar Minggu dan Pasar Minggu Baru, kereta yang saya tumpangi harus berhenti lama. Kejadian yang juga sering saya alami dahulu. Mungkin, bila tidak ada sesuatu yang penting, saya hanya mengumpat karena pegal berdiri dengan gerah yang amat sangat. Sama seperti yang saya alami hari ini. Tapi dulu kadang berbeda. Pernah saya harus mengumpat lebih keras karena ada test yang harus saya ikuti dengan waktu yang tinggal sebentar lagi. Atau karena janji dengan teman untuk urusan penting. Kadang saya harus turun dan berganti bis, bila belum ada tanda-tanda kereta akan jalan dalam waktu dekat.</p>
<p>Beruntung hari ini kereta ‘hanya’ tertahan sekitar 15 menit. Cukuplah untuk mengeluarkan peluh dari pori-pori kulit. Saya turun di Gondangdia dengan mengira-ngira stasiun yang sudah dilalui. Walaupun harus berpikir keras, saya berhasil mengingat urutan stasiun sepanjang Tanjung Barat sampai Gondangdia. Dulu, saya sangat hapal urutan stasiun dari Jakarta Kota sampai Bogor. Termasuk perkiraan waktu tiba di setiap stasiunnya. <em>Well</em>, dengan aktivitas bolak balik setiap hari, pastilah urutan ini akan dihapal dengan sendirianya.</p>
<p>Setelah urusan kantor selesai, saya kembali naik kereta api untuk balik ke bengkel. Kali ini, di stasiun Gondangdia, saya harus menunggu lama. Mungkin lebih dari setengah jam. Di waktu menunggu ini, saya melihat kerumunan mahasiswa yang juga ikut menunggu kereta. Tawa dan canda keluar dari obrolan mereka. Nyaris sama dengan yang saya alami hampir 10 tahun yang lalu. Cerita lucu, celaan bocor, atau saling caci pernah saya alami bersama kawan-kawan kampus. Kadang sambil bermain remi bila kereta malam yang kami naiki masih lama tiba di stasiun. Saling cela dan canda ini juga berlanjut di dalam kereta. Sehingga kadang perjalanan menjadi terasa menyenangkan dan tidak terasa jauh.</p>
<p>Kereta dari Jakarta Kota sudah datang. Sekarang penumpang kereta jauh lebih padat dari berangkat tadi. Mungkin karena jeda waktu yang panjang, sehingga penumpang sampai membludak. Pada saat ini, tentu sudah menjadi rahasia umum, banyak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Nyaris semua penumpang –yang merasa bukan copet-, berusaha melindungi barang-barang miliknya sambil berdesakan. Dan, kecurigaan satu sama lain yang belum kenal pasti terjadi. Yaa, siapa sih yang tidak mau aman pada kondisi tersebut. Alhamdulillah, hingga kini, saya belum pernah mengalami kejadian buruk, dicopet.</p>
<p>Kali ini saya turun di Stasiun Lenteng Agung, dengan selamat. Ah, nostalgia berkereta yang menarik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2008/08/nostalgia-kereta-listrik-jakarta-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keberuntungan Itu Datang</title>
		<link>http://budiyono.com/2008/08/keberuntungan-itu-datang/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2008/08/keberuntungan-itu-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 02:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 23 Agustus 2008, sebuah lembaga keuangan tempat saya mencari nafkah, mengadakan acara outing di lokasi yang terkenal dengan kesejukan udaranya. Rumah Cisarua, jalan raya Puncak, Bogor. Awalnya, saya sempat ragu dengan keikutsertaan saya pada acara ini. Alsannnya, hampir semua rekan team dalam satu unit kerja saya tidak ikut serta. Rata-rata mereka menyesalkan rencana acara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu 23 Agustus 2008, sebuah lembaga keuangan tempat saya mencari nafkah, mengadakan acara outing di lokasi yang terkenal dengan kesejukan udaranya. Rumah Cisarua, jalan raya Puncak, Bogor.</p>
<p>Awalnya, saya sempat ragu dengan keikutsertaan saya pada acara ini. Alsannnya, hampir semua rekan team dalam satu unit kerja saya tidak ikut serta. Rata-rata mereka menyesalkan rencana acara outing yang nyaris seperti team buliding. Persyaratan barang bawaan pun terasa memberatkan. Well, ini pun sempat terlintas dalam pikiran saya. Karena yang ada di otak saya, outing itu harusnya menikmati suasana alam, hiburan, relax, dan menikmati minuman segar sambil dipijit. heiahiehai..<br />
Tapi, berhubung saya terlanjur niat sejak awal untuk ikut. Sendiri pun saya jalani. Toh masih banyak rekan unit lain yang masih bisa saya &#8216;gauli&#8217;. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Berangkat dari kantor sekitar pukul 8.00, tiba di lokasi sekitar pukul 10.00. Sampai di sana, langsung disuguhkan kopi hangat dan pembagian kaos outing. Dan acara pun siap dimulai.</p>
<p>Berbagai permainan mengalir dengan serunya. Permainan yang ditawari EO lumayan menarik. Jauh dari perkiraan sebelumnya. Hampir semua anggota kelompok aktif mengikuti. Dan hasilnya, kelompok saya meraih juara II. Tentu dengan pengorbanan badan yang pegal-pegal karena banyak aktifitas fisik dalam permainan ini.</p>
<p>Selain permainan kelompok, ada selipan undian doorprize. Hadiahnya pun bervariasi. Dari DVD player, kipas angin, sampai mesin cuci dan kulkas. Dari awal, saya berpikir bahwa saya tidak akan mendapat barang-barang tersebut. Karena memang, seumur hidup tidak pernah mendapatkankannya.</p>
<p>Sampai saat itu, saya berpikir bahwa keberuntungan saya bukan berasal dari undian doorprize. Harus ada usaha untuk mendapatkan segala sesuatunya. Dan memang terbukti, dua kali outing sebelumnya, saya tidak pernah mendapat undian doorprize. Tapi selalu mendapat peringkat pertama untuk lomba kelompok.</p>
<p>Tapi kali ini berbeda. Selain kelompok saya meraih juara II, tanpa diperkirakan, nomor undian saya menjadi nomor yang paling beruntung hari itu. Hadiah grandprize akhirnya bisa saya bawa pulang. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagi yang percaya akan faktor keberuntungan, tentu ini jadi tanda tanya besar. Apakah keberuntungan -dan kesialan- itu juga tidak selamanya milik beberapa orang saja? Apakah bisa berpindah ke orang lain yang sebelumnya tidak memilikinya? Atau ini akan jadi titik balik akan keberuntungan seseorang?<br />
<em><br />
â??Popularity and Glamour are only part of the factors involved in winning elections. One of the most important of all is luck. In my case, luck was always with meâ??</em> â?? Harry Truman (mantan Presiden United States) â??</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2008/08/keberuntungan-itu-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mie Ayam Asun</title>
		<link>http://budiyono.com/2008/04/mie-ayam-asun/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2008/04/mie-ayam-asun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 02:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan dan Minuman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/index.php/2008/04/11/mie-ayam-asun/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, suasana cerah menyelimuti Selatan Jakarta. Macet dan asap kendaraan menjadi menu yang tak terelakkan. Tentu dengan raungan klakson dan permainan gas dari beberapa kendaraan yang tak kuat menahan depresi lalu lintas Jakarta. Seperti biasa, seakan tak mengindahkan suasana tersebut, bersama belahan jiwa kerap mencari pilihan sarapan pagi. Setiap hari silih berganti. Variasi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini, suasana cerah menyelimuti Selatan Jakarta. Macet dan asap kendaraan menjadi menu yang tak terelakkan. Tentu dengan raungan klakson dan permainan gas dari beberapa kendaraan yang tak kuat menahan depresi lalu lintas Jakarta.</p>
<p>Seperti biasa, seakan tak mengindahkan suasana tersebut, bersama belahan jiwa kerap mencari pilihan sarapan pagi. Setiap hari silih berganti. Variasi yang menjadi keharusan untuk jiwa yang funky.</p>
<p>Tersebutlah tempat makan di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Sebuah tempat penjual mie ayam biasa mangkal setiap harinya. Produk mie yang beberapa kali dibahas di stasiun televisi. Beberapa forum di internet pun tak ketinggalan membahas makanan ini.</p>
<p>Mie Ayam Asun. Konon kabarnya, nama Asun diambil dari daerah asal si penjual. Asun singkatan dari Anak Sunda.<br />
Sebenarnya lokasi yang berada di trotoar depan Sekolah Theresia ini, selalu saya lalui dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Rasa ingin mencoba pun selalu terlintas sesaat. Namun, keberuntungan baru saya dapatkan ketika pagi ini sudah mati gaya dengan menu sarapan yang ada.</p>
<p>Selintas, hampir tak ada tempat parkir yang memadai di area ini. Tapi jangan khawatir, pinggir-pinggir batasan trotoar sudah ditetapkan sebagai tempat parkir oleh sekelompok orang di sana.</p>
<p>Tiba saatnya mencari tempat duduk dan pemesanan. Tempat duduk seadanya disediakan penjual. Walau hanya satu kursi memanjang di bawah pohon rindang, suasana nyaman tak lepas dari tempat itu. Dengan menyebutkan jumlah pemesanan, sang penjual dengan segera meracik hidangan hangat tersebut.</p>
<p>Rupanya, SLA dari Mie Ayam Asun ini patut diacungi jempol. Hanya hitungan menit, semangkuk mie ayam sudah sampai di tangan saya. Entah karena masih pagi dan sepi, atau memang biasa seperti itu. Yang jelas, saya puas dengan cepatnya penyajian.</p>
<p>Tampilan satu porsi tidak ada yang istimewa. Sama seperti kebanyakan mie ayam. Terdiri dari mie, ayam, 2 baso, 2 pangsit goreng, dan seledri. Dengan mangkuk bergambar ayam, 2 sumpit merah, plus piring plastik penahan panas. Semuanya masih standar penjualan mie ayam.</p>
<p>Suapan pertama, puluhan lembar mie langsung melesak kedalam mulut saya. Hmmm, rasanya&#8230; Standar! Yeah rite, rasanya masih standar.<br />
Mie ayam yang digembor-gembor memiliki rasa anak sunda ini, ternyata tidak berbeda jauh dengan mie ayam lainnya. Walaupun tidak bernilai minus, tapi juga tidak lebih lezat. Masih kalah jauh dengan mie ayam 4848 di bilangan Kwitang. Ada kemiripan rasa dengan mie ayam di Kebun Sirih. Walaupun masih lebih enak daripada mie ayam Nanang yang rasanya semakin sucks!</p>
<p>Kini, semangkuk mie sudah berpindah kedalam perut. Nyaris tidak ada rasa kenyang. Yup, selain rasanya yang standar, porsinya pun tidak terlalu banyak. Kalah jauh dibanding porsi mie ayam Nanang yang sampai memenuhi mangkuknya. Walau rasanya tetap sucks!</p>
<p>Tiba saatnya perhitungan serius dengan si penjual. Sang belahan jiwa bertanya,&#8221; Berapa, Bang?&#8221;.<br />
&#8220;Sepuluh ribu, Mbak&#8221;, jawab si penjual. &#8220;Heh?!&#8221; gumam saya.. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Weh, dengan porsi yang sedikit, rasa standar, dan tempat yang seadanya, harga 10 ribu kurang pas untuk dibandrol pada mangkuk mie ayam itu.<br />
Hanya cepat saji yang menarik untuk diberi nilai positif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2008/04/mie-ayam-asun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Depresi</title>
		<link>http://budiyono.com/2008/03/depresi/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2008/03/depresi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 07:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ngerasa depresi? Tertekan? Stress berlebihan? Disebabkan karena berbagai hal, depresi sangat mudah datang pada setiap insan manusia. Penyebabnya pun relatif berbeda. Tergantung kekuatan mental dan pengalaman dari sang individu dalam menjalankan hidupnya. Beberapa masalah yang timbul pada satu individu bisa menjadi beban yang berat pada dirinya. Namun, masalah yang sama belum tentu menjadi beban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah ngerasa depresi? Tertekan? Stress berlebihan?<br />
Disebabkan karena berbagai hal, depresi sangat mudah datang pada setiap insan manusia. Penyebabnya pun relatif berbeda. Tergantung kekuatan mental dan pengalaman dari sang individu dalam menjalankan hidupnya. Beberapa masalah yang timbul pada satu individu bisa menjadi beban yang berat pada dirinya. Namun, masalah yang sama belum tentu menjadi beban bagi orang lain.</p>
<p>Melihat keberagaman ini, seharusnya satu individu bisa belajar banyak dari individu lainnya. Semakin banyak belajar, semakin kuat individu tersebut menghadapi setiap masalah yang menimbulkan depresi. Tapi ternyata, tidak semua individu mampu menangkap pelajaran ini. Walau kadang pelajaran yang ada sudah di depan mata. Rasa cuek, ketidakmengertian, sampai rasa enggan yang dalam kadang mempengaruhi individu itu untuk tidak belajar.</p>
<p>Rasa penyesalan akan datang dikemudian hari. Biasanya setelah depresi itu sudah datang, dan semua terasa terlambat. Apakah ini terjadi pada semua individu? Atau hanya terjadi pada individu-individu yang bisa dibilang bodoh dalam menyikapi hidupnya sendiri?</p>
<p>Terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi juga akan sangat terlambat bila setiap individu harus mengakui kebodohannya setelah semua masalah terjadi. Ketika depresi sudah menyelimuti dirinya. Sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Bahkan, tindakannya pun sudah tidak bisa dibilang wajar. Tanda kegilaan diujung mata. Cepat atau lambat, semuanya malah akan menimbulkan effect negative yang lebih besar.</p>
<p>Sulit memang, untuk bisa mengerti kenapa semuanya bisa terjadi. Bahkan bisa terjadi berulang tanpa kita bisa mengambil pelajaran dari masalah sebelumnya. Yaa, bila dilihat dari hidup, beberapa orang akan berkata,â??Itulah hidup!â?? Gak akan ada hidup yang sempurna. Semua masalah akan menjadi bumbu dalam kehidupan. Tapi tidak terasa cerdas bila selalu berpikir begitu. Pikiran harus dikembangkan. Strategi harus diubah. Kebiasaan lama yang negatif harus disingkirkan. Lihat sekeliling! Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari setiap segi kehidupan. Sekecil apapun.</p>
<p>Kita tak pernah tahu ilmu yang begerlimpangan di sekeliling kita akan menjadi modal yang sangat berharga di kehidupan kita ke depan. Jadi, jangan pernah meremehkan apapun dalam hidup ini. Peduli akan sekitar. Tangkap semua ilmu di sekeliling. Dan jadikan setiap desah napas kita untuk belajar berbagai hal demi kehidupan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2008/03/depresi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Puasa 1428H</title>
		<link>http://budiyono.com/2007/10/tentang-puasa-1428h/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2007/10/tentang-puasa-1428h/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2007 07:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sampai puasa terakhir ini belum batal. At least, makan dan minum.. Sahur rutin antara pukul 03.30 &#8211; 04.00 WIB. Setelah sahur, disempatkan tidur sampai pukul 06.30. Kecuali hari libur, sampai waktu yang tidak terbatas. Buka puasa hanya beberapa kali di rumah. Awal-awal hari puasa aja. Selebihnya, di kantor atau di jalan dengan makanan seadanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>Alhamdulillah, sampai puasa terakhir ini belum batal. At least, makan dan minum.. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Sahur rutin antara pukul 03.30 &#8211; 04.00 WIB.</li>
<li>Setelah sahur, disempatkan tidur sampai pukul 06.30. Kecuali hari libur, sampai waktu yang tidak terbatas.</li>
<li>Buka puasa hanya beberapa kali di rumah. Awal-awal hari puasa aja. Selebihnya, di kantor atau di jalan dengan makanan seadanya. Gorengan + lontong, kolak, mie ayam, atau kadang donat dan hokben, pas ada yang traktir. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />
</li>
<li>Hanya beberapa kali buka puasa bersama. Banyak waktu yang gak pas pada saat undangan bukber berdatangan.
</li>
<li>Kerja masih seperti biasa. Gak ada yang istimewa selain disediakan tempat tidur yang nyaman pada jam istirahat.
</li>
<li>Weekend, lebih sering keluar rumah. Badan terasa lemas bila hanya bermalas-malasan di rumah.</li>
<li>Niat libur nge&#8217;bengkel gak berhasil. Minggu terakhir puasa, malah harus ke bengkel untuk mengganti gearset. Hari itu menjadi puasa terberat selama sebulan, dehidrasi terhebat yang pernah dialami.</li>
<li>THR terbesar yang pernah didapat pada tanggal 28 September 2007. *bwhahahaha.. ada yang ngiri*</li>
<li>Menjual gadget kesayangan (Blueangel &#8211; SX66) pada tanggal 8 Oktober 2007, setelah membeli gadget pengganti (Universal &#8211; Exec) pada tanggal 25 September 2007.
</li>
<li>Apa lagi yaa? *masih mungkin ditambahken*</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2007/10/tentang-puasa-1428h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isi Kepala Bos</title>
		<link>http://budiyono.com/2007/04/isi-kepala-bos/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2007/04/isi-kepala-bos/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 09:29:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini, suasana kantor membuat saya sering bertanya-tanya sendiri. Segalanya seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Jungkir balik dari keadaan semula. Kadang mendekat, kemudian lari menjauh. Hilir mudik tak tentu arah. Entah sudah berapa minggu kondisi ini berlangsung. Yang jelas, saya mulai memikirkannya sejak seminggu yang lalu. Tahun lalu, sebuah penerbit kartu kredit terkenal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini, suasana kantor membuat saya sering bertanya-tanya sendiri. Segalanya seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Jungkir balik dari keadaan semula. Kadang mendekat, kemudian lari menjauh. Hilir mudik tak tentu arah. Entah sudah berapa minggu kondisi ini berlangsung. Yang jelas, saya mulai memikirkannya sejak seminggu yang lalu.</p>
<p>Tahun lalu, sebuah penerbit kartu kredit terkenal di negara Paman Sam bergabung. Dan sejak itu, saya memiliki dua orang bos. Bos pertama, lebih dari setahun telah setia &#8216;menyuruh&#8217; saya. Sebut saja namanya Bences. Sebenarnya beliau ini berada dua level di atas saya. Karena orang yang satu level di atas saya mengundurkan diri, dia langsung ambil alih tampuk pimpinan. Bos kedua, datang dari penerbit kartu kredit yang baru bergabung. Dia ini memang diposisikan sebagai pengganti bos lama yang mengundurkan diri. Sebut saja namanya Ances.</p>
<p>Awalnya, saya senang dengan keberadaan si Ances. Dia terlihat fair dalam mengkoordinasikan bawahannya. Jalan pikirnya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Supel dan hampir humoris. Hampir. Sifatnya seperti kebalikan dengan si Bences. Bences ini orangnya pikun, paranoid, pelit, dan hampir tidak menghargai pendapat bawahan.<br />
<span id="more-100"></span><br />
Pada semester pertama, kedua bos ini sangat &#8216;baik&#8217; kepada saya. Minimal, terlihat dari nilai maksimal yang diberikan pada saat PA awal tahun ini. Saya seperti sudah mendapatkan momentum itu. Segalanya seperti berjalan sesuai rencana. Hasilnya, kenaikan gaji maksimal, bonus lebih dari karyawan lain, dan kenaikan pangkat terjadi bulan lalu. Mimpi saya selama bekerja kurang lebih lima tahun seakan tercapai. Jalan luas seperti terbuka membentang di depan saya. Yaaa, momentum itu telah datang&#8230;</p>
<p>Tiba-tiba, di bulan ini, segalanya berubah. Hampir setiap hari saya tidak mendapat &#8216;teguran&#8217;. Komunikasi seakan terputus. Tidak ada pertanyaan seputar pekerjaan dan perkembangan team. Bahkan, saya seperti tidak mengenalnya.</p>
<p>Coba runut ke belakang. Hampir tidak ada kesalahan yang saya temukan. Tidak di diri sendiri, maupun dalam team. Bahkan perkembangan hasil terlihat meningkat. Segalanya terlihat baik-baik saja. Namun, saya masih merasa ada yang salah dengan keadaan ini. Sampai posisi duduk -yang baru diubah- sempat menyita perhatian. Diskusi dengan team, saya pun mendapat gambaran yang sama. Jelas kedua bos ini seperti lari menjauh.</p>
<p>Ah, saya menyerah. Biarlah mereka dengan gayanya, dan saya kerjakan pekerjaan ini dengan dengan gaya saya. Terserahlah bagaimana mereka bersikap. Yang penting kerjaan bisa selesai dengan hasil yang baik. Sukur-sukur hasilnya istimewa.</p>
<p>Hari ini segalanya kembali berubah. Kedua bos seakan berbalik lagi ke arah saya. Lagi-lagi mereka menampakkan keramahan seperti sedia kala. Senyumnya kembali keluar. Dengan santainya juga diskusi perkembangan departemen seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sikap cuek yang ditunjukkan belakangan seperti mimpi belaka. Hampir tiada bekas.</p>
<p>Segalanya berubah tanpa alasan yang jelas. Bos yang aneh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2007/04/isi-kepala-bos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan Tanpa Libur</title>
		<link>http://budiyono.com/2006/12/liburan-tanpa-libur/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2006/12/liburan-tanpa-libur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2006 04:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya liburan adalah masa yang menyenangkan bila diisi dengan aktivitas melepas stress dan menghilangkan kejenuhan rutinitas sehari-hari. Apalagi bila liburan jatuh pada masa big season. Akhir tahun ini misalnya. Jatah cuti tahun ini yang hampir tidak pernah saya ambil, membuat jumlah hari yang tersisa lumayan banyak. Niatnya memang akan saya habiskan untuk akhir tahun. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya liburan adalah masa yang menyenangkan bila diisi dengan aktivitas melepas stress dan menghilangkan kejenuhan rutinitas sehari-hari. Apalagi bila liburan jatuh pada masa <em>big season</em>. Akhir tahun ini misalnya.</p>
<p>Jatah cuti tahun ini yang hampir tidak pernah saya ambil, membuat jumlah hari yang tersisa lumayan banyak. Niatnya memang akan saya habiskan untuk akhir tahun. Tapi sayang, niat itu tidak terkabul di tahun ini. Secara rekan yang beragama Nasrani pasti mempunyai niat yang sama untuk merayakan hari besarnya. Bos baru saya pun kebetulan beragama Nasrani. Jadi, akan sulit bagi saya dapat menghabiskan sisa cuti pada masa-masa ini. Harus mengisi tempat yang kosong di meja kantor.</p>
<p>Pada pertengahan Desember, paksaan untuk mengambil cuti terus berdatangan dari SDM. Heran, koq malah dipaksa yaa&#8230; <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
Akhirnya, saya terpaksa ambil cuti tahunan dari tanggal 18 &#8211; 22 Desember. Waktu seminggu ternyata belum juga menghabiskan sisa cuti saya tahun ini. Sementara, Bos kerap meminta saya untuk menghabiskan cuti. Sayang kalau hangus, katanya. Karena Desember ini bulan terakhir menghabiskan cuti menurut peraturan perusahaan, akhirnya saya bilang, biarlah sisa cuti tahun ini hangus ditelan waktu. Ternyata bos saya ini belum menyerah. Dia akan meminta pengecualian ke SDM agar waktu cuti saya bisa diperpanjang sampai akhir Januari. Dan, jadilah cuti sesi kedua jatuh di akhir Januari 2007.</p>
<p>Balik ke cuti sesi pertama. Berhubung waktu cuti yang terpaksa, waktu saya jadi terbuang percuma. Belum ada rencana-rencana jitu untuk menghabiskan waktu libur di tanggal-tanggal tersebut. Hampir tidak ada kegiatan yang bisa menghilangkan stress atau melupakan rutinitas. Tetap saja diisi dengan menghadap komputer, bergumul dengan dunia maya, sambil sesekali melihat email kantor dan melayani telepon pertanyaan seputar pekerjaan dari orang kantor. Meeting kecil dengan rekan komunitas juga sesekali terselip dalam masa cuti ini. Ah, semua kegiatan itu pun sama seperti yang saya lakukan setiap harinya. Bedanya, biasa melakukan di kantor, sekarang di rumah. Satu-satunya kegiatan yang &#8216;mungkin&#8217; bisa menghibur adalah pada hari Minggu(24/12) saya menonton Eragon di Gading XXI. Yah, lumayan lah, walau beberapa orang menyimpulkan film ini sux.</p>
<p>Hari Senin (25/12), masa libur saya malah ditutup sesuatu yang tidak menyenangkan sama sekali. Kran air di rumah yang memang sudah karat, drat-nya dol dan air pun keluar tanpa henti. Jadilah pagi sampai siang ini saya harus memperbaiki kran air. Duh, saya khan tidak pernah mendapat mata kuliah servis kran air&#8230; <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2006/12/liburan-tanpa-libur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Ego Pribadi dan Pelayanan Prima</title>
		<link>http://budiyono.com/2006/12/antara-ego-pribadi-dan-pelayanan-prima/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2006/12/antara-ego-pribadi-dan-pelayanan-prima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Dec 2006 13:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Sejak awal bergabung dengan salah satu bank swasta nasional, saya sudah disuguhkan beberapa tema pelatihan yang harus diikuti sebelum terjun langsung di pekerjaan. Salah satunya adalah service excellent atau pelayanan prima. Walaupun nantinya pekerjaan saya bukan untuk ditempatkan di front office, tema ini menjadi salah satu pelatihan wajib di perusahaan saya. Inti dari tema ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak awal bergabung dengan salah satu bank swasta nasional, saya sudah disuguhkan beberapa tema pelatihan yang harus diikuti sebelum terjun langsung di pekerjaan. Salah satunya adalah <em>service excellent</em> atau pelayanan prima. Walaupun nantinya pekerjaan saya bukan untuk ditempatkan di <em>front office</em>, tema ini menjadi salah satu pelatihan wajib di perusahaan saya. Inti dari tema ini adalah bagaimana seorang karyawan mampu melayani nasabah dengan layanan yang prima. Dengan banyaknya teori yang disampaikan, jelas terdoktrin bagaimana kami tidak boleh melakukan sesuatu hal, sekecil apapun, yang dapat mengecewakan nasabah. Nasabah adalah raja.</p>
<p>Selang beberapa tahun terlewat, saya memang tidak pernah secara langsung berhubungan dengan nasabah. Karena bagian <em>support</em> yang saya geluti, lebih fokus kepada dukungan suatu system atau kegiatan dan prosedur dapat berjalan lancar. Sesekali mungkin bisa langsung berhubungan, tapi frekwensinya sangat rendah.<br />
<span id="more-91"></span><br />
Beberapa hari lalu, ada kasus dimana satu nasabah perusahaan asuransi besar dan terkenal di Indonesia sedang mengalami masalah pada systemnya. Kontan, mereka tidak bisa meneruskan proses aktivitas pekerjaan yang berhubungan dengan system. Salah satunya adalah menyediakan file yang harus dikirimkan ke tempat kami untuk proses pendebetan premi nasabah mereka. Tentu tidak ada jalan lain selain menunggu sampai systemnya beres. Tidak mungkin membuat file secara manual dengan jumlah ribuan data dan amount lebih dari dua milyar.   Sementara tanggal <em>closing</em> ditempat mereka juga sudah dekat, akhir bulan di depan mata.</p>
<p>Selain menunggu perbaikan system, mereka juga mengharapkan kami menunggu dalam satu hari itu, sampai jam berapa pun, agar dilakukan proses pendebetan. Setelah berkoordinasi dengan bagian terkait, serta harapan besar dari team bisnis, akhirnya saya menyanggupi untuk menunggu sampai system mereka beres. Salah satu pimpinan perusahaan itu pun secara pribadi mengucapkan rasa terima kasihnya atas semua ini.</p>
<p>Waktu demi waktu terlewati. Jam demi jam berdetak tanpa henti. Sampai batas waktu standar pengiriman data, file yang ditunggu tidak juga tiba. Sekitar pukul 19.00 akhirnya file itu datang juga. Segera saya dan team melakukan proses awal pemeriksaan isi dan format data. Dengan penuh kehati-hatian dan meningkatkan kecepatan, setiap data diperiksa dengan teliti. Ini sangat berat, berhubung kami hanya terbiasa melakukannya  dipagi atau siang hari. Malam hari biasanya mengerjakan sesuatu yang santai atau malah hanya bermain <em>game</em>, <em>browsing</em>, atau <em>chating</em>..;)</p>
<p>Tapi malam itu kami harus melakukannya, tidak hanya agar bisa melayani nasabah dengan sebaik-baiknya, tapi juga membuktikan bahwa team saya dapat memberikan <em>support </em>yang baik kepada team bisnis. Beberapa jam berselang, akhirnya semua sudah siap, eksekusi siap dilaksanakan. Namun masih ada rasa panik atas sesuatu yang buruk akan terjadi. <em>Cut off time system</em>. Yaa, ada satu titik dimana system kami harus memotong proses yang berjalan untuk dilakukan proses akhir hari. Biasanya pukul 00.00. Ini tentu di luar kekuasaan kami. Tapi semua kepanikan itu baru bisa terjawab keesokan harinya.</p>
<p>Pagi hari, di luar kebiasaan, saya langsung memeriksa report yang dikeluarkan system. Memastikan kepanikan yang menyelimuti kami tidak benar-benar terjadi. Namun, apa yang kami takutkan menjadi nyata. Sekitar 200 data dengan nominal sekitar 200 juta-an tidak terproses dan tidak terlihat jejaknya. Fiuh!</p>
<p>Sambil berpasrah diri dan mencoba mencari solusi, saya harus mengabarkan hal ini ke pihak asuransi. Minimal, pihak mereka juga harus mengerti tentang kondisi ini. Semua sudah dilakukan secara maksimal.</p>
<p>Pada komunikasi awal, saya bicara dengan bagian <em>operation</em>-nya. Dengan berhati-hati, saya mengungkapkan masalahnya. Beruntung dia mengerti dan mencoba membantu dengan memberikan data-data yang saya butuhkan. Sampai sini, rasa lega sebenarnya sudah datang. Tinggal bagaimana nanti team saya mencari sisa-sisa data yang tercecer semalam.</p>
<p>Namun semuanya berubah beberapa menit kemudian. Seorang <em>manager</em> dari bagian <em>operation</em> perusahaan asuransi itu menghubungi saya. Seorang wanita berinisial MM, menanyakan masalah yang terjadi. Saya jelaskan pelan dan sopan, serta mengikuti azas-azas pelayanan prima. Tapi sayang, wanita ini mempunyai gaya bicara dan sifat yang mendekati kategori menjijikkan. Hampir setiap kata-katanya menyerang dan memojokkan kami. Semua kejadian ini adalah total kesalahan dari pihak kami. Dan kami yang harus menanggung akibatnya. Tentu diungkapkan dengan gaya yang menjijikkan tadi. Tak terlupakan beberapa kalimat seperti: &#8220;Pokoknya ini semua adalah kesalahan perusahaan Anda!&#8221; atau &#8220;Kami hanya mau enaknya saja, tidak mau direpotkan untuk membantu Anda.&#8221; dan &#8220;Silakan cari solusi dan kabarkan kami hasilnya hari ini juga!&#8221;</p>
<p>BAH!.. Sebagai orang yang hampir tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh nasabah, aliran darah saya mengalir deras sampai ujung kepala. Banyak sekali luapan emosi yang tinggal saya keluarkan untuk membalikkan kata-katanya. Atau mungkin kembali menyerang dan memojokkan dia. Apa dia sudah lupa kenapa ini terjadi? System siapa yang bermasalah diawal sehingga kami harus mengorbankan waktu istirahat? Apa dia tidak berpikir kalo saya tidak menyanggupi malam itu, mereka akan kehilangan ribuan nasabah asuransinya? Grrrrrrrrrrhhhhg..</p>
<p>Tapi saya tidak bisa melakukannya. Teringat sepintas teori dari pelatihan pelayanan prima. Saya berusaha meredam emosi untuk tidak menyerang balik. Walau dengan muka merah padam dan gemeretak gigi yang terdengar pelan. Namun, dengan semakin tidak kuatnya menahan emosi, akhirnya saya banting gagang telepon untuk menutupnya. Menghilangkan cacian wanita durjana itu dari telinga saya. BRAK!</p>
<p>Setelah <em>cooling down</em> beberapa saat, saya langsung menceritakan hal ini kepada rekan bisnis. Gayung bersambut. Ternyata mereka pun sering punya masalah dengan wanita berinisial MM ini. Bahkan mereka sudah tidak sungkan-sungkan untuk menyerang balik bila MM mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati. Wah, bila mengetahui hal ini dari awal, saya tidak perlu menahan emosi donk, yaa&#8230; <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Rupanya, dengan kejadian ini, tim bisnis langsung menghubungi atasan dari MM. Dengan berani mereka langsung melaporkan tabiat MM yang mengesalkan beberapa bagian di perusahaan kami. Bila perlu diberi sanksi. Sang atasan menyanggupi serta meminta maaf sebesar-besarnya kepada kami. Entah apa yang terjadi dikubu mereka selanjutnya. Yang jelas, akhirnya saya dan team berhasil menyelesaikan masalah, menemukan data yang tercecer, dan semua beres hari itu. <em>YES!</em></p>
<p>Dari pengalaman ini, saya bersyukur tidak bekerja di bagian depan perusahaan. Karena banyak cerita serupa di sana. Nasabah-nasabah mengesalkan kadang tidak menggubris hati dan rasa dalam meluapkan segalanya. Saya mungkin bukan orang yang cocok untuk tetap tersenyum ketika rasa diinjak-injak. Sulit memisahkan ego dan pengabdian kepada perusahaan. Dan yang pasti, saya tidak akan memberikan toleransi waktu lagi kepada siapa pun. Semua harus seusai kesepakatan awal. Terutama perusahaan asuransi tersebut!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2006/12/antara-ego-pribadi-dan-pelayanan-prima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Ular Di Dapur</title>
		<link>http://budiyono.com/2006/11/anak-ular-di-dapur/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2006/11/anak-ular-di-dapur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Nov 2006 12:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[BlogMe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari Mbak PRT yang sedang mengeluarkan piring-piring untuk keperluan tahlil tetangga sebelah. Dia menjerit karena melihat seekor ular melintas. Dan, dengan keyakinannya tentang hewan yang dilihat, dia tidak berani meneruskan pekerjaannya. Setelah merasa yakin dengan ceritanya, segera saja tim gegini dadakan menyusuri ruang penyimpanan piring-piring itu. Dengan berbekal perlengkapan seadanya, kami menyinari setiap sudut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari Mbak PRT yang sedang mengeluarkan piring-piring untuk keperluan tahlil tetangga sebelah. Dia menjerit karena melihat seekor ular melintas. Dan, dengan keyakinannya tentang hewan yang dilihat, dia tidak berani meneruskan pekerjaannya.</p>
<p>Setelah merasa yakin dengan ceritanya, segera saja tim gegini dadakan menyusuri ruang penyimpanan piring-piring itu. Dengan berbekal perlengkapan seadanya, kami menyinari setiap sudut ruang. Beberapa menit kemudian, kami menemukan seekor ular hitam, sedang waspada memandangi manusia yang menghampiri. Dengan panjang sekitar 30 cm, gaya ular itu lumayan membuat gentar anggota tim. Persis seperti tayangan hewan liar di televisi.<br />
Kepala terangkat ke atas, mulut ternganga lebar.</p>
<p>Dengan menggunakan sarung tangan, salah seorang anggota tim langsung mengibaskan selembar kain, dan menariknya ke tempat yang lebih terang. Dan, tanpa basa-basi ular tersebut langsung ditahan dengan besi di atas tubuhnya. Karena berat besi, kontan ular tersebut tidak bisa berjalan. Hanya kepalanya yang dengan garang meliuk-liuk mencoba menggigit apapun yang mendekat. Ada yang bilang, ular ini sejenis cobra. Hah?!<br />
Sayang skrinsut yang ada tidak terlalu tajam terlihat, karena hanya menggunakan kamera seadanya.</p>
<div align="center"><img src="http://www.geocities.com/byonics/GaleriBlog/Ulerkcil.jpg" alt="uler" /> </div>
<p>Memang, dari warnanya yang hitam dengan corak abu-abu gelap serta gerakan kepalanya yang siap menerkam, bisa dibilang gaya ini mirip sekali dengan ular cobra. Ah, terlepas dari jenis ularnya, yang menjadi masalah adalah bagaimana anak ular ini bisa sampai ke dapur saya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2006/11/anak-ular-di-dapur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
