<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[BY]onicS &#187; Kesehatan</title>
	<atom:link href="http://budiyono.com/category/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiyono.com</link>
	<description>...not just imagining...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Oct 2011 09:36:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Cabut Gigi Itu Tidak Sakit</title>
		<link>http://budiyono.com/2008/02/cabut-gigi-itu-tidak-sakit/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2008/02/cabut-gigi-itu-tidak-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 16:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>byonics</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari dua tahun saya menahan diri untuk tidak mencabut gigi geraham kiri. Padahal, sudah sejak itu pula, dokter gigi mem-vonis geraham ini segera dicabut. Istilahnya, gigi itu sudah mati dan tinggal sampahnya saja. Memang, geraham kiri saya sudah sejak &#8230; <a href="http://budiyono.com/2008/02/cabut-gigi-itu-tidak-sakit/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lebih dari dua tahun saya menahan diri untuk tidak mencabut gigi geraham kiri. Padahal, sudah sejak itu pula, dokter gigi mem-vonis geraham ini segera dicabut. Istilahnya, gigi itu sudah mati dan tinggal sampahnya saja. Memang, geraham kiri saya sudah sejak lama patah bagian atasnya. Hanya akar saja yang tersisa. Permukaan pun nyaris tertutup gusi. Pantas bila disebut sampah.</p>
<p>Rupanya, kondisi geraham kiri membuat iri geraham kanan. Mungkin, melihat saudara kembarnya asik-asikan hidup tenang di bawah gusi, tanpa menjalankan tugas mengunyah makanan, membuat si geraham kanan membuat keputusan yang sama. Tahun lalu, geraham kanan mulai patah pada satu sisinya. Goyang inul setiap ada tekanan. Dan beberapa kali membuat tuannya merasa sakit tak tertahan. Puncaknya, bulan puasa silam, sakit gigi membuat kehidupan saya agak merana. Nyaris setiap detik saya harus menahan rasa nyeri. Benar-benar lebih nyeri dari sakit hati <em>*spontan nyanyi dangdut*</em>.</p>
<p>Dari situ, saya memantapkan diri untuk segera mencabut gigi geraham sialan ini. Sambil menunggu sembuh, saya mencari informasi tentang proses pencabutan gigi. <em>Damn!</em> selain kisah yang amat menakutkan, bumbu-bumbu dari teman yang tak bertanggung jawab membuat nyali saya ciut juga. Apalagi bila dikaitkan dengan jarum suntik. Eit, bukannya saya takut jarum suntik, lho.. Cuma, saya agak menghindari benda-benda tajam mendekati, apalagi masuk ke dalam tubuh saya. Sekecil apapun. Hehehe..</p>
<p>Selepas masa tersiksa, kondisi gigi berangsur pulih. Rasa sakit yang pernah datang seakan terlupakan. Niat untuk menghilangkan sumber sakit sudah tidak terlintas lagi. Untuk sementara, saya membiasakan hidup dengan gigi geraham kanan yang patah setengah, dan goyangan mautnya yang siap menusuk gusi dengan rasa perih suatu hari nanti.</p>
<p>Sampai akhirnya, datang niatan mulia itu. Senin kemarin, sambil ber-narsis diri di depan cermin, iseng saya perhatikan setiap sisi gigi geraham. Panik juga dengan kondisi patahan yang sudah semakin parah. Warna hitam di bawah patahan sudah mulai melebar. Hmm, harus ambil tindakan tegas. Cabut!<br />
<span id="more-114"></span><br />
Kebetulan, Rabu kemarin seorang teman kantor, mengutarakan niatnya untuk berkunjung ke dokter gigi. Moment yang pas!<br />
Dengan mengumpulkan informasi dan persiapan menghadapi benda kecil, lancip, dan menakutkan itu, saya siapkan satu hari cuti untuk benar-benar fokus. Karena salah fokus itu sux!</p>
<p>Kamis, 14 Februari 2008, lebih dikenal sebagai hari kasih sayang untuk sebagian orang. Hari yang pas untuk merasakan indahnya pergi ke dokter gigi. Adalah RS Abdi Waluyo di bilangan Menteng, yang menjadi tujuan saya. Hujan yang turun sejak pagi, seakan siap mengiringi keberangkatan saya menuju tempat yang tidak rela untuk saya kunjungi tersebut.</p>
<p>Tepat pukul 10.30, saya mulai duduk di ruang tunggu. Menunggu giliran untuk dieksekusi. Teman saya masuk duluan untuk memeriksa giginya. Setengah jam berlalu, nama saya pun akhirnya dipanggil. Seorang dokter cantik, menyambut saya dengan riangnya. Dr. Maja -baca Maya-, nama dokter itu. Rambutnya ikal sepundak, kulit putih bersih, dan tubuh yang langsing itu, menyambut saya seperti telah mengenal ribuan tahun lamanya. Sapaan akrabnya jelas membuat pasien panik seperti saya bisa langsung terobati. Sedikit melupakan jarum suntik, saya lancar mengutarakan keluhan. <em>Uhm, jago lu, Dok!</em></p>
<p>Sesi &#8216;nyaman&#8217; itu tak berlangsung lama. Saya dipersilakan duduk di kursi &#8216;pembantaian&#8217;. Rasa ngeri spontan datang lagi, setelah melihat berbagai peralatan di meja praktek. Tang, besi-besi tajam, dan berbagai peralatan lain yang siap mengobrak-abrik gigi geraham saya. Blast! lampu besar menyala menyinari seluruh isi mulut. Dr Maja dengan santainya memeriksa sambil sesekali tersenyum manis menenangkan. Sungguh cara yang pas, dari dokter yang menarik.</p>
<p>Entah apa yang dia lakukan pada gigi saya, yang jelas saya hanya merasakan benda kecil menyentuh lembut gusi saya. Tidak ada rasa sakit sedikit pun. Beberapa kali diminta kumur-kumur, dokter bertanya apakah sudah ada rasa tebal di gusi. Lho, memangnya sudah dibius? Koq tidak ada rasa sakit? Koq saya tidak melihat jarum suntik? Koq?</p>
<p>Dan benar saja, ternyata memang obat bius sudah melesak ke dalam gusi. Entah cara apa yang digunakan, yang jelas, setelah itu dokter sudah dengan santainya mengeluarkan rongsokan geraham saya. Tidak ada rasa sakit sedikit pun sampai saya melihat seluruh gigi beserta akar sudah berpindah ke meja praktek. <em>And, that&#8217;s it</em>! Cabut gigi sudah selesai tanpa ada rasa sakit sedikit pun. Huaaaah, legaaa&#8230;!</p>
<p>Saya masih berpikir, teknologi apa yang digunakan untuk membius. Apakah disemprot, atau tetap disuntik dengan jarum yang kecil? Hasilnya, prosesi pencabutan gigi lancar jaya, dan jauh dari kesan menakutkan. Saya hanya tinggal menggigit kapas selama 2 jam, dan semua telah selesai.</p>
<p>Dan, dalam waktu dekat, saya akan balik lagi untuk mencabut geraham kiri yang tinggal akarnya. Bedanya, sekarang tanpa rasa takut sedikitpun. Cheers&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2008/02/cabut-gigi-itu-tidak-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>83</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah.. Rumah.. Rumah</title>
		<link>http://budiyono.com/2007/02/rumah-rumah-rumah/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2007/02/rumah-rumah-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Feb 2007 12:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>byonics</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[SastraGaul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Beuh, gak nyangka, udah sebulan gue gak ngeblog. Gak berasa juga sebulan ini penuh banget lika dan liku aktivitas, perjalanan, sampe kondisi tubuh yang grafiknya turun abis. Bulan lalu, gw menargetkan waktu untuk survey perumahan harus diselesaikan sebelum akhir Maret. &#8230; <a href="http://budiyono.com/2007/02/rumah-rumah-rumah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.geocities.com/byonics/GaleriBlog/Fotorumah.jpg" style="float:right;" alt="Rumah" />Beuh, gak nyangka, udah sebulan gue gak ngeblog. Gak berasa juga sebulan ini penuh banget lika dan liku aktivitas, perjalanan, sampe kondisi tubuh yang grafiknya turun abis.</p>
<p>Bulan lalu, gw menargetkan waktu untuk survey perumahan harus diselesaikan sebelum akhir Maret. Maunya sih, bulan April gue udah bisa mutusin beli rumah yang mana, di daerah yang mana, dan dengan uang berapa.</p>
<p><strong>BINTARO</strong></p>
<p>Melanjutkan target pertama di <a href="http://budiyono.com/index.php/2006/09/09/target-i-vila-dago-pamulang/">daerah Pamulang</a>, seharusnya target kedua adalah Depok. Namun, pada Sabtu pertama bulan Februari, kebetulan ada undangan pernikahan temen kampus ke daerah Bintaro. Jadilah gue mengubah arah survey ke daerah Bintaro. Dari seluruh sektor yang ada, sampai ke daerah Jombang gue datengin setiap perumahan baru. Kebetulan, gue sempet pegang brosur perumahan Puri Bintaro Indah yang punya harga pas sesuai kantong. Tapi sayang, setelah melihat kondisi perumahan yang kayaknya tidak dibuat dengan rapi, gue harus mengubur niat gue untuk beli di sana.<br />
<span id="more-99"></span><br />
Kemudian gue melanjutkan menyusuri jalan Jombang sampai ke daerah Graha Bintaro. Beberapa perumahan memang sudah dipersiapkan. Kavling dan jalan sudah terlihat, tapi sayang, rasanya jarak ke kantor nggak manusiawi kalo gue ambil di sana. So, Bintaro gue tutup dulu sementara ini.</p>
<p><strong>DEPOK</strong></p>
<p>Hari Minggu-nya, gue ke Depok. Target perumahan pertama di sana adalah Permata Depok Regency. Dengan model minimalis dan system cluster, udah cukup menarik perhatian gue. Dan bener juga, sampai di lokasi pun gue memang langsung tertarik dengan perumahan ini. Suasananya udah pas seperti yang gue angankan akan sebuah hunian tempat tinggal. Untuk pertama kalinya, gue langsung menetapkan perumahan ini dalam daftar pilihan. Tranportasi bisa dengan mobil atau kereta, kebetulan jaraknya hanya sekitar 1 km dari stasiun Depok lama.</p>
<p><strong>CIMANGGIS</strong></p>
<p>Weekend berikutnya, gue satronin perumahan di daerah Kelapa Dua, Cimanggis, dan perumahan sekitar jalan raya Bogor. Berbekal beberapa iklan di <a href="http://propertiproperti.com">internet</a>, gue datengin setiap perumahan disana. Dari Karya Graha, Nuansa Permai, Jatijajar, sampai Villa Pertiwi. Sebenernya, mau gue terusin sampai Cilangkap di perumahan Permata Cimanggis, tapi mendung yang semakin gelap, membuat gentar untuk meneruskan perjalanan.</p>
<p>Dan benar aja, pada arah balik, di daerah Depok, ujan deras turun lama banget. Dan, inilah penyebab dropnya grafik kesehatan gue, dan yang paling parah dalam kurun waktu setahun terakhir. Badan yang kena ujan selama berjam-jam, dengan kondisi macet dan banjir, membuat radang tenggorokan datang menyerang. Selama seminggu kemarin total gue cuma bisa tidur doank. Boro-boro masuk kantor, jalan di rumah aja goyang melulu. HIKS!</p>
<p>Pada survey hari itu, yang masuk dalam daftar pilihan adalah Nuansa Permai, Kelapa Dua.</p>
<p><strong>BEKASI</strong></p>
<p>Weekend ini, dengan kondisi tubuh yang udah lumayan sehat, gue dapet brosur perumahan di daerah Jatisari, Pondok Gede. Udah masuk Bekasi. Jaraknya lebih deket dari rumah gue sekarang, jalan tol langsung menuju UKI juga udah jadi. Perumahan dengan system cluster Bali cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar pilihan.</p>
<p>Berikutnya gue masih penasaran dengan Permata Cimanggis, dan mungkin mencari alternatif perumahan second.</p>
<p>Fiuh, susah bener yaa cari rumah,&#8230; terutama karena budget yang terbatas.. <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2007/02/rumah-rumah-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedrest, Pindahan, Dan Pegal</title>
		<link>http://budiyono.com/2006/11/bedrest-pindahan-dan-pegal/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2006/11/bedrest-pindahan-dan-pegal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Nov 2006 14:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>byonics</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Pada usia kehamilan berumur dua bulan, banyak pendapat yang mengatakan untuk lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sangat diyakini bahwa janin yang berusia 1 sampai 3 bulan, masih sangat sensitif. Petuah pasti datang untuk lebih menjaga usia kandungan pada trismester &#8230; <a href="http://budiyono.com/2006/11/bedrest-pindahan-dan-pegal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada usia kehamilan berumur dua bulan, banyak pendapat yang mengatakan untuk lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sangat diyakini bahwa janin yang berusia 1 sampai 3 bulan, masih sangat sensitif. Petuah pasti datang untuk lebih menjaga usia kandungan pada trismester pertama ini. Kegagalan perkembangan janin pada masa ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:  faktor produk kehamilan,  faktor kesehatan ibu, serta faktor alat reproduksi.</p>
<p>Dengan aktivitas yang memang agak padat semenjak lebaran, tak heran bila faktor kesehatan ibu menjadi mayoritas penyebab keluarnya vonis dokter untuk melakukan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bedrest">bedrest</a></em>. Batuk dan flu yang diderita sejak hari ke-3 lebaran belum juga sembuh hingga hari ini. Sebelumnya, hanya mengkonsumsi obat-obatan tradisional seperti jeruk nipis, kencur, atau sekedar menambah waktu beristirahat. Saran yang didapat dari sebuah milis yang  berdiskusi seputar kehamilan. Namun sudah seminggu, batuk tidak kunjung hilang.<br />
<span id="more-89"></span><br />
Mungkin, karena waktu istirahat yang agak telat, batuk yang sangat rutin, atau karena kelainan kromosom, kemarin dokter mengatakan bahwa janin sudah berpindah tempat. Dan mendekati keguguran!<br />
Untuk mempertahankan kondisi janin agar berkembang normal, diberikan obat penguat dan beberapa obat untuk mengatasi batuk yang semakin parah. Tidak meninggalkan tempat tidur pun sudah wajib dijalankan. Proses bedrest pun dimulai.</p>
<p>Saat ini, kamar yang ditempati berada di lantai 2. Sudah banyak yang menyarankan untuk pindah ke lantai 1. Naik turun tangga pun diyakini bisa mengganggu kehamilan. Dan, memang sudah terbukti. Mungkin kondisi ini menjadi salah satu faktor penyebab perpindahan janin.</p>
<p>Akhirnya, seharian ini resmi memindahkan seluruh isi kamar di lantai 2 ke lantai 1. Tak terasa, ternyata barang-barang yang ada di kamar itu jumlahnya sangat banyak. Tidak cukup satu hari untuk benar-benar total berpindah tempat. Padahal itu tidak termasuk memindahkan fisik lemari pakaian karena ukuran ruang yang tidak sama. Pegal-pegal di seluruh badan tak terhindarkan lagi. Begini, <em>deh</em>.. bila tidak dibiasakan berolah raga. Kini saya pun harus ikutan bedrest.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2006/11/bedrest-pindahan-dan-pegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan dan Flu</title>
		<link>http://budiyono.com/2006/02/hujan-dan-flu/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2006/02/hujan-dan-flu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2006 06:16:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>byonics</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Motor dan HTML]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/index.php/2006/02/09/hujan-dan-flu/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah bermula pada hari Senin lalu. Waktu itu hujan turun sejak malam. Paginya, hujan justru semakin deras. Berhubung harus masuk kantor, dengan dilindungi jas hujan, menempuh macetnya jalan Jakarta dengan motor kesayangan. Awalnya perjalanan begitu lancar, hanya hawa dingin dan &#8230; <a href="http://budiyono.com/2006/02/hujan-dan-flu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah bermula pada hari Senin lalu. Waktu itu hujan turun sejak malam. Paginya, hujan justru semakin deras. Berhubung harus masuk kantor, dengan dilindungi jas hujan, menempuh macetnya jalan Jakarta dengan motor kesayangan. Awalnya perjalanan begitu lancar, hanya hawa dingin dan sentuhan rintik hujan di sekujur tubuh yang agak mengganjal. Belum lagi tetesan air yang jatuh tepat di muka helm dan sesekali menghalangi pandangan.</p>
<p>Memasuki wilayah perkantoran di sekitaran Thamrin, tiba-tiba motor tiger berhenti mengaum. Kontan tidak ada daya untuk melajukan motor berkapasitas 200 cc ini. Berhenti sejenak, mencoba untuk menekan ulang tombol <em>starter electric</em>. Beberapa kali tekan, si tiger kembali mengaum. Lega rasanya.</p>
<p>Setelah mengantar istri di salah satu gedung sekitaran perkantoran tersebut, kembali melanjutkan perjalanan menuju arah Patung Tani. Rupanya kejadian awal matinya mesin kembali terulang. Tepatnya di samping Sarinah Thamrin. Usaha seperti di awal pun segera dicoba. Namun sayang, kali ini motor tidak juga menyala. Sekian kali dicoba plus selah, sama saja. Terpikir, mungkin ada air yang masuk ke salah satu bagian mesin dan membuat mesin mati. Akhirnya terpaksa mendorong kembali motor berat keluaran Honda ini menuju perkantoran Thamrin untuk menumpang parkir.<br />
<span id="more-65"></span><br />
Sambil sedikit berhujan-hujan, melanjutkan perjalanan menuju Patung Tani dengan bajaj. Dasar bajaj <em>SUX</em>, dengan kondisi seperti ini beberapa bajaj yang ditanyakan harga selalu mengenakan tarif yang jauh lebih mahal. Akhirnya mengalah karena waktu terus berjalan dan harus bergegas bila tidak ingin lebih telat masuk kantor.</p>
<p>Sesampainya di kantor, ternyata ke-apes-an belum juga berakhir. Ponsel GSM sudah lowbat dan tidak bawa charger. Sementara ponsel CDMA yang biasa digunakan untuk koneksi internet juga tertinggal kabel data-nya. Dua ponsel yang selalu menemani kehidupan sehari-hari ini nyaris tiada berguna. Dan otomatis seharian itu pun tidak bisa buka internet sama sekali.</p>
<p>Singkat kata, sore hari tepat pukul 17.00 WIB, langsung bergegas menuju Thamrin untuk mengecek keadaan motor dengan diantar rekan kantor. Sesampainya di lokasi parkir, sudah ada salah satu member <a href="http://www.honda-tiger.or.id/">HTML</a> yang kebetulan bekerja di gedung itu, siap membantu bila diperlukan. Tanpa buang waktu, menekan tombol start. Jreng, Tiger langsung mengaum. Beruntung tidak ada masalah berarti dan sampai di rumah dengan selamat. Esoknya cek busi yang memang sudah tua dan menggantinya dengan yang baru. Busi cadangan pun tidak ketinggalan disertakan.</p>
<p>Efek berhujan-hujan Senin itu baru timbul semalam. Gejala flu mulai datang. Ditambah Rabu malam masih harus pulang larut. Tentu dengan hujan yang turun menemani perjalanan. Hampir semalaman tidak bisa tidur karena hidung yang tersumbat dan sulit bernapas.</p>
<p>Dan hari ini, bahkan hujan turun bagai diguyur dari langit. Masih deras sejak semalam. Trauma <em>error</em>nya mesin tiger karena hujan, kembali membayangi perjalanan pagi. Jelas-jelas tidak bisa menikmati perjalanan sama sekali. Panik, macet, dingin, hidung meler, tidak enak badan membuat kumplit derita perjalanan pagi ini. Hmmm.. mungkinkah sudah saatnya beralih ke Honda Jazz? <img src='http://budiyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hujan dan flu memang SUX!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2006/02/hujan-dan-flu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sakit</title>
		<link>http://budiyono.com/2005/10/sakit/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2005/10/sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2005 07:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>byonics</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/index.php/2005/10/14/sakit/</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari kemarin total menghentikan semua aktivitas dan rutinitas hidup sehari-hari. Hanya terbaring lemas di tempat tidur tanpa melakukan aktivitas apa-apa. Demam tinggi menyerang hebat, flu dan batuk pun mengiringi. Panas badan yang tinggi dan rasa lemas yang menyelimuti sekujur &#8230; <a href="http://budiyono.com/2005/10/sakit/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari kemarin total menghentikan semua aktivitas dan rutinitas hidup sehari-hari. Hanya terbaring lemas di tempat tidur tanpa melakukan aktivitas apa-apa. Demam tinggi menyerang hebat, flu dan batuk pun mengiringi. Panas badan yang tinggi dan rasa lemas yang menyelimuti sekujur tubuh seakan memporak-porandakan setiap sendi tulang yang ada di raga ini. Tidak ada daya dalam gerak dan desah napas serta denyut nadi yang mampu mengobati rasa sakit ini.</p>
<p>Pada hari selasa sudah harus ijin pulang lebih cepat dari kantor karena tidak kuat menahan pening yang menyerang kepala. Sesampainya di rumah, langsung terkapar tak berdaya sambil menunggu waktu berbuka tiba. Walau dengan kondisi badan seperti ini, masih diusahakan untuk memenuhi kewajiban berpuasa. Selain waktu berbuka yang tidak lama lagi, rasanya sayang bila harus bolong puasa ditahun ini. Dan Alhamdulillah, hari itu berhasil juga menutup puasa sampai bedug Maghrib tiba.</p>
<p><span id="more-43"></span><br />
Malam harinya, total tidak dapat memejamkan mata. Rasa tak enak diseluruh badan membuat mata ini tidak dapat fokus untuk melelapkan tuan-nya kedalam mimpi-mimpi indah. Berpindah tempat sampai beberapa kali tidak juga berhasil membawa diri ini ke alam tidur yang dinanti-nantikan. Sampai tiba waktunya sahur tiba, mata ini masih juga membelalak dengan nakalnya. Dan sambil sedikit meringis menahan sakit dan pening, mencoba untuk menyantap makanan sahur yang sudah disiapkan Ibunda tercinta. Walau tidak banyak tapi lumayan untuk mengganjal perut ini menjalankan puasa di hari tersebut. Dan setelah ritual sahur selesai, mencoba lagi lebih memfokuskan untuk tidur. Tak sia-sia perjuangan kali ini, akhirnya berhasil membawa diri ini ke alam tidur dengan nyenyaknya.</p>
<p>Tepat pukul 06.00 WIB, terbangun dengan rasa yang tidak berbeda dengan hari sebelumnya. Bahkan dapat dikatakan lebih parah lagi. Rasanya tak punya kekuatan untuk berdiri atau berjalan. Rasa lemas yang menyelimuti sekujur tubuh sudah sedemikian hebatnya. Sudah dapat dipastikan hari ini tidak dapat masuk kantor. Dan segera diputuskan untuk minta izin kepada bos untuk beristirahat dirumah. Yang lebih parah adalah ketika menyadari bahwa rasanya tubuh inipun tidak kuat untuk menjalani ibadah puasa. Selain pastinya akan membuat sakitnya lebih parah lagi, juga kondisi saat ini yang mengharuskan untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit.</p>
<p>Pukul 8.30, diputuskan untuk membatalkan puasa dan makan obat serta beberapa vitamin tambahan, dan kembali membaringkan tubuh ini di tempat tidur kesayangan. Sempat terpikir pula sedikit kepanikan mengenai penyakit yang diderita saat itu. Pasalnya, malam sebelum penyakit ini datang, sempat mengkonsumsi bebek goreng didaerah Matraman. Tapi mudah-mudahan ini hanya paranoid semata yang timbul dari berbagai pemberitaan di beberapa media massa belakangan ini. Dan benar saja, setelah seorang kerabat dekat memeriksa kondisi tubuh ini, beliau hanya mengatakan penyakit ini murni karena angin.</p>
<p>Setelah sedikit diurut untuk mengusir angin yang bersemayam didalam tubuh, rasa panas badan mulai mereda, badan pun terasa lebih enteng dan enak. Namun belum bisa dikatakan sembuh dan harus berisitirahat total beberapa hari. Akhirnya,  selama dua hari tidak masuk kerja dan hanya terbaring di tempat tidur dan harus rela tidak menjalani ibadah puasa.</p>
<p>Hari ini, tepatnya pada hari ke-3 sudah bisa masuk kantor seperti biasa walau masih dalam keadaan lemah. Yang pasti, sekarang pun belum bisa melakukan semua aktivitas dengan normal seperti sedia kala.</p>
<p>Selama dua hari dirumah, dengan kondisi badan yang sangat sangat tidak menyenangkan, kembali melihat kebelakang. Rasanya belakangan ini mudah sekali angin menyarang didalam tubuh. Apakah karena sering pulang malam dengan berkendaraan motor? Atau karena kurangnya mengkonsumsi vitamin tambahan atau malasnya makan buah-buahan? Dan, apakah karena tidak pernah melakukan olah raga dengan rutin?<br />
Mungkin semua itu ada benarnya. Memang dengan aktivitas yang lumayan banyak, sebaiknya segera merubah pola makan kearah yang lebih sehat. Rasa malas mengkonsumsi buah-buahan harus dibuang jauh-jauh. Segala macam sayur-sayuran juga harus lebih banyak disantap. Bukan sekedar makanan-makanan favorit saja yang masuk kedalam tubuh walupun makanan tersebut juga tidak kalah hitungan vitaminnya. Minimal, semboyan empat sehat lima sempurna harus selalu masuk dalam setiap kategori makanan yang akan dikonsumsi. Olahraga rutin pun seharusnya kembali dilakukan. Lari pagi yang beberapa waktu lalu sempat terhenti, akan segera dilanjutkan.</p>
<p>Yang paling membuat kecewa selama dua hari dirumah yaitu dengan ‘sakit’nya komputer dan handphone dalam waktu yang bersamaan. Komputer sama sekali tidak bisa masuk kedalam system operasi karena memory yang ter-<em>detect</em> hanya 1 mb dari 256 mb yang seharusnya. Memang sudah beberapa kali hal ini terjadi, namun biasanya bisa segera dipecahkan dengan me-<em>reset</em>-nya. Tapi kali ini setelah beberapa kali menekan tombol reset, tidak ada perubahan sama sekali, tetap ter<em>detect</em> sebesar 1 mb. Entah karena memory-nya yang <em>error</em>, atau <em>powersuplly</em>-nya yang sudah tidak kuat lagi mengangkat energi komputer. Yang jelas, dengan kondisi badan seperti ini, tidak mungkin untuk melakukan perbaikan dan <em>re-check</em> satu persatu hardware yang ada.</p>
<p>Karena kerusakan komputer dan keinginan untuk tetap berhubungan dengan internet yang begitu besar, mencoba mengalihkan perhatian ke ponsel. Apes pula, hari itu pun <em>software</em> Opera yang biasanya digunakan untuk <em>browsing</em>, sama sekali tidak bisa dibuka. Hanya <strong>Agile Messenger</strong> saja yang masih aktif. Jadi seharian hanya melakukan obrolan dengan beberapa rekan melalui <strong>Yahoo Messenger</strong>.</p>
<p>Tapi yang jelas, hari ini sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasanya, walau belum normal dan banyaknya pekerjaan yang ditunda selama dua hari.</p>
<p><em>Well</em>, kerja dulu ah..!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2005/10/sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

