Archive

Archive for the ‘Motor dan HTML’ Category

Aug
20

My Bike, code name: SuperunknowN

Tampak samping kiri:
fullbike

Tangki:
tangki

Setelah menjalani prosesi panjang perubahan tiger 1997 menjadi tiger 2010, kini photo model baru tersebut bisa ditampilkan. Photo ini diambil tepat pukul 7.00 WIB dengan menggunakan kamera ponsel nokia 6600.

Jul
02

Pagi ini, ketika mentari bersinar dengan cerahnya, ketika musik-musik rock mengalun dari ponsel kesayangan, ketika jalan kota Jakarta yang ramah dan bebas dari kemacetan, terselip satu accident kecil yang menimpa si tigi.
Hari Sabtu ini mengunjungi Grapari Terlkomsel di Wisma Alia Jakarta Pusat dimana accident itu terjadi. Parkiran motor di basement gedung itu sebenarnya tidaklah ramai atau krodit layaknya mal-mal di Jakarta. Jarak renggang antar motor pun sebenarnya sangat terbilang longgar.
Namun memang apes nian hari itu. Sewaktu hendak bersiap-siap meneruskan perjalanan, ada yang terlupakan untuk dibuka yaitu kunci disk. Langsung saja beranjak dari motor untuk membuka kunci itu.
“PRAAAANG….!” ternyata anggapan bahwa standar samping masih menyangga adalah kesalahan besar. Standar samping itu sudah kembali ke tempat asalnya, sehingga tidak dapat menyangga seluruh badan motor. Tangan yang memang tidak dipersiapkan untuk menahan beban motor ini pun tidak kuat untuk menopang berat motor ini.
Tidak kurang dari handle rem harus bergeser dari tempat semula. Dan yang paling parah adalah kaca spion kiri yang terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Tempatnya pun ikut terlepas dari besi penyangga.

Mudah-mudahan tambah hati-hati lagi lain waktu. Walau hanya ditempat parkir.

Mar
29

Rencana berangkat pagi-pagi harus tertunda lebih satu jam dari yang direncanakan. Awalnya menetapkan hati pukul 6.00 pagi sudah harus mulai meninggalkan Bandung. Tapi karena banyak persiapan yang harus dilaksanakan, maka keberangkatan baru mulai terlaksana pada pukul 7.30 WIB.

Dengan ditemani sinar mentari pagi, tigi dipacu dengan kecepatan stabil 70 km/jam. Masalah kanvas kopling yang ditakuti tidak terasa disepanjang Jalan Padalarang sampi Cianjur. Masalah baru muncul selepas perempatan Cianjur – Puncak. Berat tarikan hanya pada 50 km/jam. Sementara rpm juga tertahan pada titik 6000. Kepanikan kembali terasa. Dengan terus mengatur irama gas dan kopling, motor tetap dipacu menuju puncak.
Tepat pukul 9, sampai juga di Mesjid Puncak. Beristirahat selama 45 menit untuk sekedar merenggangkan kaki dan berharap mendinginkan mesin tigi untuk meminimalisir masalah pada kopling.
Dan benar saja, setelah didiamkan kini masalah kopling jauh berkurang. Apalagi dengan kondisi jalan yang terus menurun, tidak diperlukan lagi tenaga yang besar untuk menjalankan dua roda tigi. Walaupun macet, tigi tetap dapat berjalan lancar. Terlebih setelah satu jalur dibuka diwilayah Cisarua.

Tigi terus dipacu menuju Kota Bogor. Sempat tersesat sedikit ketika menemui perempatan menuju Terminal Bareneung Siang.
Perjalanan menuju Jakarta ditempuh melalui jalur Kampung Tengah sambil terus mempelajari medan dan menghapal jalan.

Akhirnya tepat pukul 12.30 solo turing perdana ini berakhir didaerah Kwitang dan sampai dengan selamat.

Alhamdulillah…

Mar
28

6.00 WIB, memulai perjalanan menuju Bandung. Tujuan awal adalah Depok untuk menemui seorang rekan yang bersedia mengantarkan sampai Bogor. Dengan perjalanan yang lumayan santai, sampai ke titik pertemuan pukul 7.00. Tanpa banyak cingcong, langsung saja memacu kendaraan menuju Bogor melalui Kampung Tengah. Kondisi jalan pagi itu lumayan lancar dan agak sepi dengan ditemani pancaran sinar matahari pagi.

Sambil menghapal jalan dan mencari tanda-tanda jalan, si tigi dipacu dengan kecepatan rata2 60 km/jam.

Akhirnya tiba dikota Bogor pukul 8.00. Mencari tempat sarapan dan sekedar beristirahat, berhenti di RM Taman Palem. Menyantap nasi uduk dan bubur ayam, dilengkapi segelas teh manis membuat perut serasa penuh kembali.

Tepat pukul 8.30, perjalanan diteruskan. The real solo touring is begin. Berpisah dengan teman di putaran pertama, kini perjalanan langsung diarahkan menuju puncak. Terkejut ketika mulai memasuki arah puncak. Kemacetan luar biasa terpampang jelas di depan mata. Ugh!

Karena putaran terlalu jauh dan mobil seakan terhenti mengantri, maka mencoba menggunakan ‘jalur pintas’. Sayang jalur tersebut agak tinggi untuk dinaiki tigi. Putaran pertama tigi sama sekali tidak berdaya. Dengan rpm tinggi beberapa kali roda hampir tergelincir. Dan akhirnya, setelah boncenger turun, berhasil juga melewati rintangan itu. Namun… ternyata dari sinilah bencana itu dimulai. Setelah dipaksa dengan rpm tinggi, terasa sekali tarikan gas yang berat. Rpm tidak mau lebih dari 6000. Kopling terasa aneh. Ini adalah tanda-tanda plat kopling menipis. I’ve been there before.

Ketakutan menyelimuti sekujur tubuh akan bencana yang mungkin terjadi. Berusaha tetap tenang, permainan gas dan kopling diatur sedemikian rupa. Tapi memang dasar sudah cacatnya plat kopling, dibarengi dengan macetnya jalan, serta tanjakan-tanjakan mematikan, mulai pasrah ketika mesin sempat mati beberapa kali. Pada saat yang genting itu, bertemu dean serombongan HTML Jakarta Selatan. Ingin rasanya meminta pertolongan kepada mereka. Tapi apa? Pemecahannya pasti bongkar mesin, dan itu tidak mungkin dilakukan. Akh,.. Sudahlah! The tour must go on.

Dengan penuh kehati-hatian, perjalanan diteruskan. Alhamdulillah, selepas puncak pas, jalan mulai lancar kembali. Selip kopling mulai hilang. Kini masalah hanya pada tarikan gas yang tetap berat dan rpm yang tetap mandek pada titik 6000. Jadi perjalanan tidak senyaman Jakarta-Bogor. Dengan kecepatan yang sudah mulai stabil, kini sudah memasuki wilayah Cianjur. Sempat salah belok di perempatan kota. Bertanya sedikit dengan supir angkot, perjalanan diteruskan tanpa masalah.

Sampai di Ciranjang, rasa lelah, haus dan panas mulai menggerogoti sekujur tubuh. Ingin mencari tempat beristirahat, namun tidak menemukan tempat yang pas sampai memasuki wilayah Padalarang. Kemacetan kembali terjadi sepanjang jalan. Tapi slip kopling tidak terjadi lagi. Thanx God!

Tepat pukul 11.30 mulai memasukin wilayah Batujajar. Berhenti sebentar untuk membeli oleh2, dan menenggak sebotol Pocari Sweat. Pukul 12.00 perjalanan pertama benar-benar berakhir.

To be continued…

Jun
16

Ada ungkapan yang mengatakan ‘better late than sorry’, lebih baik telat dari pada menyesal kemudian…
Untuk kasus yang menimpa hari ini sepertinya agak2 lain. Serasa menyesal karena terlambat…

Dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor tadi, tiba2 teringat sesuatu yang rasanya agak terlambat. Sesuatu yang seharusnya diingat sebulan yang lalu.
Yaa… Baru teringat bila motor yang dikendarai setiap hari merayakan ultahnya pada tanggal 6 Mei 2004 dan artinya harus membayar pajak…

Ketika menyadari bahwa hari ini sudah sebulan lebih sejak tanggal masa berlaku, harus siap-siap mengurus pajak dan tentu gak lupa juga harus menyiapkan dendanya… :-(
Terus terang juga tidak mengetahui seberapa besar denda yang harus dibayarkan untuk keterlambatan selama sebulan lebih…

Sepertinya harus setting reminder buat tahun depan, kalo gak mau kebingungan seperti sekarang…
Tapi maklumlah, namanya juga ABPM (apa kepanjangannya hayoo…)