<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[BY]onicS &#187; Rohani</title>
	<atom:link href="http://budiyono.com/category/rohani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiyono.com</link>
	<description>...not just imagining...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Jun 2010 05:36:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Surat Dari Setan Untukmu</title>
		<link>http://budiyono.com/2005/12/surat-dari-setan-untukmu/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2005/12/surat-dari-setan-untukmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2005 02:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kutip]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu. Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan &#8220;Bismillah&#8221; sebelum memulai santapanmu. Juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ke tempat tidurmu. Kau benar-benar orang yang bersyukur. Aku menyukainya. Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu. Hai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.<br />
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu<br />
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan &#8220;Bismillah&#8221; sebelum memulai santapanmu.<br />
Juga tidak  sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ke tempat tidurmu.</p>
<p>Kau benar-benar orang yang bersyukur.<br />
Aku menyukainya.<br />
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.</p>
<p>Hai Bodoh, kamu millikku.<br />
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama, dan aku masih belum bisa benar-benar mencintaimu.<br />
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.<br />
<span id="more-55"></span><br />
Aku hanya  menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.<br />
Dia sudah mencampakkan aku dari surga dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk membalaskannya&#8230;</p>
<p>Kau  lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu di hari depan.<br />
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku, dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.<br />
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH.</p>
<p>Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada-NYA siapa  yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa-masa yang kita jalani.</p>
<p>Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangya, guyon-guyonan jorok, bergosip, menghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua, tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.<br />
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.</p>
<p>Ayolah hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.<br />
Aku masih memiliki rencana-rencana hangat untuk kita.<br />
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untukmu.</p>
<p>Aku ingin mengucapkan &#8216;TERIMAKASIH&#8217; karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.</p>
<p>Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.<br />
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.<br />
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.<br />
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.<br />
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat  dosa.<br />
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.<br />
Lakukan semua ini di depan anak-anak dan mereka akan menirunya.<br />
Begitulah  anak-anak.</p>
<p>Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.<br />
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggodamu lagi.<br />
Jika kau cukup cerdas, kau akan  lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.<br />
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal  sedikit.</p>
<p>Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.</p>
<p>Jangan salah  sangka, aku masih tetap membencimu.<br />
Hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik di mata ALLAH.</p>
<p>Catatan : Jika kau benar-benar menyayangiku, kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2005/12/surat-dari-setan-untukmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan: Sebuah Kilas Balik dan Cermin Masa Kini</title>
		<link>http://budiyono.com/2005/10/ramadhan-sebuah-kilas-balik-dan-cermin-masa-kini/</link>
		<comments>http://budiyono.com/2005/10/ramadhan-sebuah-kilas-balik-dan-cermin-masa-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2005 07:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>BYonicS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiyono.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ketika gema datangnya bulan Ramadhan mulai terdengar, seluruh umat muslim di dunia tersenyum bahagia menyambut bulan yang paling mulia ini. Pancaran sinar kebahagiaan menyambut bulan Ramadhan semasa kecil kembali menguak. Masa Kecil? Lho, saat ini? Masih teringat bagaimana rasa bahagia menyelimuti sekujur tubuh ketika bulan Ramadhan akan datang. Bahkan rasa itu sudah datang sebulan sebelumnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika gema datangnya bulan Ramadhan mulai terdengar, seluruh umat muslim di dunia tersenyum bahagia menyambut bulan yang paling mulia ini. Pancaran sinar kebahagiaan menyambut bulan Ramadhan semasa kecil kembali menguak. Masa Kecil? Lho, saat ini?</p>
<p>Masih teringat bagaimana rasa bahagia menyelimuti sekujur tubuh ketika bulan Ramadhan akan datang. Bahkan rasa itu sudah datang sebulan sebelumnya. Keinginan untuk ibadah, kebersamaan bersama keluarga disaat sahur dan berbuka puasa, berjalan-jalan dan bermain dengan teman sebaya sehabis imsak dan sebelum tarawih, menikmati hari libur selama seminggu penuh diawal puasa, dan yang paling ditunggu penyambutan hari raya idul fitri dengan pakaian baru, limpahan makanan, dan uang pemberian sanak saudara.</p>
<p><span id="more-42"></span><br />
Menginjak masa remaja, rasa bahagia pun belum luntur dari ingatan. Bahkan, rasa itu bertambah dengan banyaknya kumpul bersama teman sekolah dan tetangga dengan diadakan buka bersama. Pengertian akan hakikat ibadah di bulan suci pun semakin besar. Tujuan berpuasa semakin dipertegas. Dan hari-hari batalnya puasa semakin jauh berkurang. Kekuatan yang datang dari dalam diri ini rupanya sanggup mengusir berbagai godaan untuk tidak membatalkannya. Dan masa-masa ini dianggap saat yang paling indah dalam menjalani puasa.</p>
<p>Beranjak dewasa, memasuki masa kuliah dan pemikiran yang lebih luas, ternyata tidak diikuti dengan peningkatan rasa bahagia dalam menyambut bulan suci ini. Datangnya bulan Ramadhan mulai terasa berkurang greget-nya. Walaupun niat ibadah tidak luntur, namun dalam menjalani hari-hari bulan ramadhan seakan biasa-biasa saja. Tidak ada lagi permainan <em>&#8216;tembak nama&#8217;</em> sehabis imsak dengan kawan disekitar rumah, sudah tidak ada lagi permainan <em>&#8216;bleguran&#8217;</em> dengan sebongkah bambu dan sebotol minyak tanah. Tidak semangat lagi untuk jalan-jalan mengitari komplek untuk sekedar menonton permainan petasan. Saat itu, setelah imsak hanya ada keinginan untuk mengganti waktu tidur yang hilang karena harus bangun sahur. Kembali bangun ketika matahari sudah mulai meninggi dan meneriakkan terik panasnya. Kejadian ini hampir selalu berulang setiap hari, terutama dihari libur.</p>
<p>Kini, ketika masa remaja sudah hampir hilang dari ingatan, ketika nafkah sudah datang dengan keringat sendiri, ketika pemikiran sudah lebih jauh menerawang, semua rasa bahagia menyambut bulan suci Ramadhan justru semakin pudar. Menjalani hari-hari berpuasa serasa biasa saja. Hampir tidak ada yang berubah. Bahkan, semenjak 3 tahun lalu, sudah jarang melakukan sholat tarawih di mesjid. Dengan aktivitas harian yang kadang berbarengan dengan waktu buka puasa dan tarawih membuat kebersamaan buka puasa dengan keluarga di rumah pun menjadi berkurang. Tarawih menjadi sering terlewatkan. Hanya buka puasa bersama yang masih sering diikuti.</p>
<p>Diawal bulan Ramadhan tahun ini, terbersit keinginan untuk merubah segala rasa, niat, dan aktivitas bulan ini untuk kearah yang lebih baik. Semoga dibulan ini penyucian diri dan hati bukan hanya sekedar kata&#8230; <strong>Amien!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiyono.com/2005/10/ramadhan-sebuah-kilas-balik-dan-cermin-masa-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
