WordPress 2.6.1

Dari judulnya, mungkin ada yang menebak bahwa postingan ini berisi cerita tentang wordpress 2.6.1. Keunggulannya, kekurangannya, atau perbandingan dengan versi sebelumnya. Hmm, nggak juga sih. Bukan versi-nya yang akan saya bahas di sini, tapi tentang upgrade wordpress bagi saya pribadi.

Cerita tersebut saya angkat karena proses upgrade ini adalah hal yang baru buat saya. Kemane aje, Bung?! hihihi… Sebelumnya, saya memang sudah puas dengan wordpress versi jadul, 1.5. Baru sekali upgrade dari versi sebelumnya, sewaktu masih di tempat hosting yang lama. Saat itu, menggunakan cpanel, upgrade wordpress semudah menjentikkan jari. Tinggal masuk menu instalasi, dan otomatis akan ditawarkan versi terbaru. Sekali klik, proses upgrade berjalan dengan sendirinya.

Setelah saya pindah tempat hosting, yang menggunakan DirectAdmin, saya hampir tak pernah melihat menu untuk upgrade wordpress. Ya sudahlah, toh aktivitas blog saya tidak terganggu hanya karena menggunakan versi yang lama.

Sampai sore tadi, saat melihat plurk-an seseorang tentang versi wordpress terbaru, saya tergugah untuk coba-coba upgrade. Seperti biasa, tanya om google dulu bagaimana upgrade wordpress di DirectAdmin. Sampailah saya ke tutorial ini. Oh iya, sepertinya ada menu Installatron, yang mungkin fungsinya untuk memudahkan instalasi/upgrade di DirectAdmin. Tapi, untuk sementara saya skip dulu menu ini, dan menggunakan cara upload manual.

Ah, ternyata simple aja yaa. Mulailah saya mengikuti setiap langkahnya. Dari download wordpress 2.6.1 sampai upload ke server nyaris tanpa cela. Ups, ada ding celanya. Berhubung upgrade hanya menggunakan media koneksi gprs, terbayanglah kecepatan proses uploadnya. Mulai proses pukul 16.00, baru selesai pukul 20.00. Padahal, di website WordPress digaungkan proses upgrade hanya memakan waktu tak lebih dari 5 menit saja. hehehe.. Tapi salut juga dengan koneksi Telkomsel hari ini. Notebook saya hidupkan dari pukul 8 pagi, dan langsung sambung ke internet. hanya terputus sekali pada pukul 19.

Sekarang, wordpress saya sudah berjalan dengan versi 2.6.1. Versi paling baru pada saat tulisan ini dibuat. Entah sampai kapan versi ini akan tinggal di server blog saya. Kita lihat saja nanti.. :-)

Tentang Provider

Bulan Mei lalu, performance gprs XL sangat mengecewakan. Lambatnya koneksi lebih banyak saya alami pada bulan itu. Bahkan dari bulan sebelumnya. Kesabaran sudah di ambang batas. Dan, berhenti berlangganan XL jadi pilihan paling pas.

Akhir Mei, setelah seluruh proses penghentian layanan XL, saya beralih ke layanan broadband IM2 keluaran Indosat. Dengan pertimbangan berbagai sisi, saya putuskan untuk mengambil paket Eco seharga 160 ribu rupiah untuk 700 mb. Selain untuk mencoba layanannya, pemakain IM2 ini sebenarnya saya posisikan untuk keperluan internet mobile saja. Perkiraan pemakaian mobile, hanya sekitar 500 mb. Berarti paket inilah yang paling cocok. Untuk opsi dengan modem, saya memang kurang tertarik. Selain harganya yang sama saja dengan membeli modem di luar paket, kontrak selama satu tahun terasa memberatkan.

Mencoba koneksi IM2 di sekitaran Pamulang bisa dibilang lebih baik dari XL. Walau ponsel yang saya miliki baru mendukung gprs, koneksi-nya lumayan stabil. Apalagi bila lagi beruntung dapat pinjaman ponsel 3G dari teman serumah. Speed-nya lumayan terdongkrak. Yang mengecewakan justru pada saat menggunakan IM2 di sekitaran Monas. Sebelumnya, saya pernah menggunakan unlimited internet dari Matrix, yang notabene sama-sama produk Indosat. Walau dengan koneksi gprs unlimited yang dikodratkan berjalan lambat, saat itu saya malah merasakan sebaliknya. Dugaannya adalah karena lokasi tersebut sangat berdekatan dengan kantor pusat Indosat di Jalan Merdeka. Kemungkinan mendapat aliran bandwidth berlebih. Namun, IM2 lain hal. Koneksi gprs di sini malah tidak lebih baik dari di Pamulang. Bisa dibilang lebih lambat.
Continue reading

Minggu Pagi Di Komplek Rumah

Kata olahraga sudah hampir punah dalam kamus hidup saya. Lebih dari dua tahun seluruh tubuh ini nyaris tidak pernah digerakkan atas nama olahraga. Hanya goyangan santai pada dua tangan dan beberapa kali goyangan kepala saya lakukan sebelum berangkat ke kantor. Waktunya, tak lebih dari lima menit.

Sebelumnya, dua tahun silam, saya sempat rutin melakukan olah raga pagi di Monas atau Senayan. Berangkat dari rumah pukul 5 pagi, masih cukup waktu untuk berputar-putar sambil menghirup udara segar. Tapi, selama dua tahun belakangan, saya hampir tak pernah lagi memiliki semangat untuk melakukan aktivitas menyehatkan itu.

Saat ini, saya sudah pindah rumah ke daerah Pamulang. Komplek yang saya tinggali kebetulan memiliki suasana yang pas untuk melanjutkan olah raga yang terputus. Setiap minggu pagi, akses jalan dari gerbang komplek sampai mesjid ujung jalan, dengan jarak hampir 5 km, selalu dipenuhi oleh warga komplek dan penduduk sekitar yang ingin menikmati kesegaran dan kesejukan udara di sini.
Continue reading

Mie Ayam Asun

Pagi ini, suasana cerah menyelimuti Selatan Jakarta. Macet dan asap kendaraan menjadi menu yang tak terelakkan. Tentu dengan raungan klakson dan permainan gas dari beberapa kendaraan yang tak kuat menahan depresi lalu lintas Jakarta.

Seperti biasa, seakan tak mengindahkan suasana tersebut, bersama belahan jiwa kerap mencari pilihan sarapan pagi. Setiap hari silih berganti. Variasi yang menjadi keharusan untuk jiwa yang funky.

Tersebutlah tempat makan di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Sebuah tempat penjual mie ayam biasa mangkal setiap harinya. Produk mie yang beberapa kali dibahas di stasiun televisi. Beberapa forum di internet pun tak ketinggalan membahas makanan ini.

Mie Ayam Asun. Konon kabarnya, nama Asun diambil dari daerah asal si penjual. Asun singkatan dari Anak Sunda.
Sebenarnya lokasi yang berada di trotoar depan Sekolah Theresia ini, selalu saya lalui dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Rasa ingin mencoba pun selalu terlintas sesaat. Namun, keberuntungan baru saya dapatkan ketika pagi ini sudah mati gaya dengan menu sarapan yang ada.

Selintas, hampir tak ada tempat parkir yang memadai di area ini. Tapi jangan khawatir, pinggir-pinggir batasan trotoar sudah ditetapkan sebagai tempat parkir oleh sekelompok orang di sana.

Tiba saatnya mencari tempat duduk dan pemesanan. Tempat duduk seadanya disediakan penjual. Walau hanya satu kursi memanjang di bawah pohon rindang, suasana nyaman tak lepas dari tempat itu. Dengan menyebutkan jumlah pemesanan, sang penjual dengan segera meracik hidangan hangat tersebut.

Rupanya, SLA dari Mie Ayam Asun ini patut diacungi jempol. Hanya hitungan menit, semangkuk mie ayam sudah sampai di tangan saya. Entah karena masih pagi dan sepi, atau memang biasa seperti itu. Yang jelas, saya puas dengan cepatnya penyajian.

Tampilan satu porsi tidak ada yang istimewa. Sama seperti kebanyakan mie ayam. Terdiri dari mie, ayam, 2 baso, 2 pangsit goreng, dan seledri. Dengan mangkuk bergambar ayam, 2 sumpit merah, plus piring plastik penahan panas. Semuanya masih standar penjualan mie ayam.

Suapan pertama, puluhan lembar mie langsung melesak kedalam mulut saya. Hmmm, rasanya… Standar! Yeah rite, rasanya masih standar.
Mie ayam yang digembor-gembor memiliki rasa anak sunda ini, ternyata tidak berbeda jauh dengan mie ayam lainnya. Walaupun tidak bernilai minus, tapi juga tidak lebih lezat. Masih kalah jauh dengan mie ayam 4848 di bilangan Kwitang. Ada kemiripan rasa dengan mie ayam di Kebun Sirih. Walaupun masih lebih enak daripada mie ayam Nanang yang rasanya semakin sucks!

Kini, semangkuk mie sudah berpindah kedalam perut. Nyaris tidak ada rasa kenyang. Yup, selain rasanya yang standar, porsinya pun tidak terlalu banyak. Kalah jauh dibanding porsi mie ayam Nanang yang sampai memenuhi mangkuknya. Walau rasanya tetap sucks!

Tiba saatnya perhitungan serius dengan si penjual. Sang belahan jiwa bertanya,” Berapa, Bang?”.
“Sepuluh ribu, Mbak”, jawab si penjual. “Heh?!” gumam saya.. :-)

Weh, dengan porsi yang sedikit, rasa standar, dan tempat yang seadanya, harga 10 ribu kurang pas untuk dibandrol pada mangkuk mie ayam itu.
Hanya cepat saji yang menarik untuk diberi nilai positif.

Depresi

Pernah ngerasa depresi? Tertekan? Stress berlebihan?
Disebabkan karena berbagai hal, depresi sangat mudah datang pada setiap insan manusia. Penyebabnya pun relatif berbeda. Tergantung kekuatan mental dan pengalaman dari sang individu dalam menjalankan hidupnya. Beberapa masalah yang timbul pada satu individu bisa menjadi beban yang berat pada dirinya. Namun, masalah yang sama belum tentu menjadi beban bagi orang lain.

Melihat keberagaman ini, seharusnya satu individu bisa belajar banyak dari individu lainnya. Semakin banyak belajar, semakin kuat individu tersebut menghadapi setiap masalah yang menimbulkan depresi. Tapi ternyata, tidak semua individu mampu menangkap pelajaran ini. Walau kadang pelajaran yang ada sudah di depan mata. Rasa cuek, ketidakmengertian, sampai rasa enggan yang dalam kadang mempengaruhi individu itu untuk tidak belajar.

Rasa penyesalan akan datang dikemudian hari. Biasanya setelah depresi itu sudah datang, dan semua terasa terlambat. Apakah ini terjadi pada semua individu? Atau hanya terjadi pada individu-individu yang bisa dibilang bodoh dalam menyikapi hidupnya sendiri?

Terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi juga akan sangat terlambat bila setiap individu harus mengakui kebodohannya setelah semua masalah terjadi. Ketika depresi sudah menyelimuti dirinya. Sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Bahkan, tindakannya pun sudah tidak bisa dibilang wajar. Tanda kegilaan diujung mata. Cepat atau lambat, semuanya malah akan menimbulkan effect negative yang lebih besar.

Sulit memang, untuk bisa mengerti kenapa semuanya bisa terjadi. Bahkan bisa terjadi berulang tanpa kita bisa mengambil pelajaran dari masalah sebelumnya. Yaa, bila dilihat dari hidup, beberapa orang akan berkata,â??Itulah hidup!â?? Gak akan ada hidup yang sempurna. Semua masalah akan menjadi bumbu dalam kehidupan. Tapi tidak terasa cerdas bila selalu berpikir begitu. Pikiran harus dikembangkan. Strategi harus diubah. Kebiasaan lama yang negatif harus disingkirkan. Lihat sekeliling! Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari setiap segi kehidupan. Sekecil apapun.

Kita tak pernah tahu ilmu yang begerlimpangan di sekeliling kita akan menjadi modal yang sangat berharga di kehidupan kita ke depan. Jadi, jangan pernah meremehkan apapun dalam hidup ini. Peduli akan sekitar. Tangkap semua ilmu di sekeliling. Dan jadikan setiap desah napas kita untuk belajar berbagai hal demi kehidupan yang lebih baik.

Cabut Gigi Itu Tidak Sakit

Lebih dari dua tahun saya menahan diri untuk tidak mencabut gigi geraham kiri. Padahal, sudah sejak itu pula, dokter gigi mem-vonis geraham ini segera dicabut. Istilahnya, gigi itu sudah mati dan tinggal sampahnya saja. Memang, geraham kiri saya sudah sejak lama patah bagian atasnya. Hanya akar saja yang tersisa. Permukaan pun nyaris tertutup gusi. Pantas bila disebut sampah.

Rupanya, kondisi geraham kiri membuat iri geraham kanan. Mungkin, melihat saudara kembarnya asik-asikan hidup tenang di bawah gusi, tanpa menjalankan tugas mengunyah makanan, membuat si geraham kanan membuat keputusan yang sama. Tahun lalu, geraham kanan mulai patah pada satu sisinya. Goyang inul setiap ada tekanan. Dan beberapa kali membuat tuannya merasa sakit tak tertahan. Puncaknya, bulan puasa silam, sakit gigi membuat kehidupan saya agak merana. Nyaris setiap detik saya harus menahan rasa nyeri. Benar-benar lebih nyeri dari sakit hati *spontan nyanyi dangdut*.

Dari situ, saya memantapkan diri untuk segera mencabut gigi geraham sialan ini. Sambil menunggu sembuh, saya mencari informasi tentang proses pencabutan gigi. Damn! selain kisah yang amat menakutkan, bumbu-bumbu dari teman yang tak bertanggung jawab membuat nyali saya ciut juga. Apalagi bila dikaitkan dengan jarum suntik. Eit, bukannya saya takut jarum suntik, lho.. Cuma, saya agak menghindari benda-benda tajam mendekati, apalagi masuk ke dalam tubuh saya. Sekecil apapun. Hehehe..

Selepas masa tersiksa, kondisi gigi berangsur pulih. Rasa sakit yang pernah datang seakan terlupakan. Niat untuk menghilangkan sumber sakit sudah tidak terlintas lagi. Untuk sementara, saya membiasakan hidup dengan gigi geraham kanan yang patah setengah, dan goyangan mautnya yang siap menusuk gusi dengan rasa perih suatu hari nanti.

Sampai akhirnya, datang niatan mulia itu. Senin kemarin, sambil ber-narsis diri di depan cermin, iseng saya perhatikan setiap sisi gigi geraham. Panik juga dengan kondisi patahan yang sudah semakin parah. Warna hitam di bawah patahan sudah mulai melebar. Hmm, harus ambil tindakan tegas. Cabut!
Continue reading

ACER ASPIRE 4520

Gegap gempita gaung Acer Aspire 4520 menyentak saya untuk memperhatikan keberadaan notebook ini. Dari beberapa forum yang saya jamah, hampir pasti jumlah halaman yang terbentuk akan lebih banyak dari topik-topik yang lain. Pujian yang ada jauh lebih besar dari cercaan yang sempat lewat. Lain forum, lain pula cerita di sebuah mailing list yang diakui sebagai sumber informasi per-gadget-an. Walau belum ada topik khusus tentang ini -afaik-, beberapa orang terlihat memberikan referensi positif yang mengacu pada notebook ber-processor AMD Turion tersebut.

Acer 4520

Acer 4520 sudah menarik hanya dengan melihat tampak luarnya. Format tampilan baru ini sepertinya sudah menjadi ciri khas untuk beberapa varian Aspire. Dan saya jadi salah satu orang yang tertarik sejak pertama kali melihatnya. Warna hitam pada sisi luar, menutup aura putih yang akan terlihat jelas ketika kita membukanya. Walau warna ini merata di seluruh body dalam, dari list LCD sampai keyboard -ada list LCD dengan warna hitam-, tidak ada rasa bosan untuk memandangnya. Sudut oval membuat tampilan lebih dinamis dan jauh dari kesan kaku. Jejeran icon-icon kecil di bawah keyboard memberikan informasi lengkap tentang hardware dan fitur yang tertanam di dalam notebook super lengkap ini. Balutan luar speaker membentang lurus di atas keyboard dengan didampingi tombol shortcut untuk mengeksekusi beberapa fitur dan aplikasi. Tepat di atas LCD, lekat menempel sebuah benda kecil dan hitam yang mampu menampilkan apapun yang berada di hadapannya. Webcam dengan tajuk Crystal Eye.
Continue reading

Begini Ceritanya…

Malam itu, kebetulan keluarga dari Bandung hendak berkunjung ke rumah baru gue. Daripada berlama-lama kasih petunjuk arah, gue berinisiatif menjemput mereka di pintu gerbang komplek.

Setelah mereka sudah sampai di gerbang, gue dan istri bergegas memacu Tigi menuju gerbang depan. Baru beberapa ratus meter keluar pagar rumah, tiba-tiba dari ujung jalan ada seekor anjing putih dan besar menghampiri. Melihat anjing mendekat dan mendengar gonggongan anjing tersebut, sontak istri gue teriak histeris. Gue yang awalnya tenang dan berniat menghentikan motor -katanya bila kita berhenti, anjing juga diam yaa?-, ternyata si anjing sialan ini tidak menghentikan gonggongannya. Akhirnya, gue jalanin motor dan menambah kecepatan dengan perkiraan si anjing akan berhenti mengejar. Duh, masih salah juga perkiraan gue. Larinya semakin kencang, dan sudah tepat berada si kaki istri gue. Spontan dia mengangkat kakinya dan menggerakkan badan ketakutan. Jadi lah gue keilangan keseimbangan. Dan… Sukses nyusruk di pinggir jalan!

Alhamdulillah kita berdua masih sadar, dan gue bisa telepon keluarga Bandung untuk menjemput kami di TKP. Jadi tebalik deh.. hehehe…

Luka gue paling parah di tangan kiri yang terkuak lebar. Lengan kanan memar dan sulit digerakkan. Kaki kanan pun lumayan ngilu. Entah terbentur benda apa. Istri, luka dan memar di betis, pinggang, dan luka kecil di jari tangan. Yeah, we’re using full face helmet!

Motor, reflektor lampu melesak ke dalam batok yang pecah. Lampu sen patah. Spakboard terbelah dua. Dan segitiga komstir yang bengkok dan menyebabkan roda serong ke kiri.

Kami berdua sudah mendapat perawatan, dan Alhamdulillah tidak ada luka serius. Motor sudah masuk bengkel.

Kita segera melapor ke pengurus RT, tentang keberadaan anjing tersebut. Berhubung kami orang baru, mungkin si anjing mau kenalan.. ;-)
Dan, mulai semalam anjing tersebut sudah dirantai. Karena ternyata sudah banyak memakan korban dengan kejadian serupa.

Tentang Puasa 1428H

  • Alhamdulillah, sampai puasa terakhir ini belum batal. At least, makan dan minum.. ;-)
  • Sahur rutin antara pukul 03.30 – 04.00 WIB.
  • Setelah sahur, disempatkan tidur sampai pukul 06.30. Kecuali hari libur, sampai waktu yang tidak terbatas.
  • Buka puasa hanya beberapa kali di rumah. Awal-awal hari puasa aja. Selebihnya, di kantor atau di jalan dengan makanan seadanya. Gorengan + lontong, kolak, mie ayam, atau kadang donat dan hokben, pas ada yang traktir. ;-)
  • Hanya beberapa kali buka puasa bersama. Banyak waktu yang gak pas pada saat undangan bukber berdatangan.
  • Kerja masih seperti biasa. Gak ada yang istimewa selain disediakan tempat tidur yang nyaman pada jam istirahat.
  • Weekend, lebih sering keluar rumah. Badan terasa lemas bila hanya bermalas-malasan di rumah.
  • Niat libur nge’bengkel gak berhasil. Minggu terakhir puasa, malah harus ke bengkel untuk mengganti gearset. Hari itu menjadi puasa terberat selama sebulan, dehidrasi terhebat yang pernah dialami.
  • THR terbesar yang pernah didapat pada tanggal 28 September 2007. *bwhahahaha.. ada yang ngiri*
  • Menjual gadget kesayangan (Blueangel – SX66) pada tanggal 8 Oktober 2007, setelah membeli gadget pengganti (Universal – Exec) pada tanggal 25 September 2007.
  • Apa lagi yaa? *masih mungkin ditambahken*

Bergaul Dengan Crossbow

Sejak awal menggunakan Crossbow di BlueAngel telah membuat saya enggan untuk berpindah ke gadget lain saat ini. Segala sesuatunya menjadi begitu baru dan sempurna. Tampilan baru, menu baru, akses cepat, dan tentu, gengsi yang tak ternilai harganya. ;-)

Beberapa menit bergaul dengan aplikasi standar WM 6 buatan Helmi ini, saya langsung menginstal cab tambahan yang disuguhkan Helmi dan Xplode. HTC HomePlugin, HTC Dialer, Live, HTC Streaming sampai Audio Manager, langsung terpasang di BlueAngel. Menjelajah HTC Home, serasa memiliki beberapa aplikasi yang tergabung menjadi satu. Dari shortcut, weather, clock, sampai music player. Profile, device lock, dan speed dial lengkap dengan photo juga langsung terintegrasi dalam HTC Home. Tampilan HTC Dialer juga memberikan suasana berbeda untuk gadget gendut ini. Apalagi dengan tambahan HTC home customizer. Mak Nyuss!
Continue reading