BlueAngel Dengan Crossbow

Tepat tanggal 31 Agutus 2007, secara ‘resmi’ master ROM PPC, Helmi, launching OS terbaru untuk BlueAngel. Kini, Windows Mobile 6 Profesional berhasil dicelupkan ke dalam salah satu varian gadget keluaran HTC tersebut. Launching ini bertepatan dengan Gathering XOJ Community (G4) di sebuah kafe kecil di pusat perbelanjaan Senayan City.

Tentu ini kesempatan menarik untuk berkumpul dengan teman komunitas XDA, sekaligus mendapat kesempatan menjadi orang-orang pertama yang menggunakan WM6 di BlueAngel. Nggak nyangka, banyak orang di dunia yang setia menggunakan BlueAngel, sudah tak sabar menanti launching OS terbaru ini.

Kebetulan, saya mendapat giliran pertama untuk upgrade. Tentu masih dengan kepanikan seperti upgrade WM 5 tahun lalu. Yaa, walaupun dikelilingi master-master ROM secara langsung, tetap saja tidak ada yang bisa menjamin bahwa upgrade akan berhasil 100%. Dan benar saja. Kepanikan saya mencapai puncaknya ketika notebook yang digunakan tiba-tiba mengalami bluescreen dan harus restart. Windows SUX!

Cuma doa yang bisa saya panjatkan, semoga BlueAngel saya masih bisa diselamatkan. Windows pun kembali logon, BA di setting ulang. Cring, Alhamdulillah device saya masih bisa bernapas dan upgrade dimulai dari awal.

Pada kesempatan kedua ini, detik-detik proses menjadi detik yang menegangkan. Kegagalan upgrade pertama lumayan menciutkan hati saya. Tapi, jelas sudah tidak bisa mundur lagi. The show must go on.

Sekitar 10 menit berlangsung, upgrade selesai dan proses setting device dimulai. Setting itu dan setting ini, lancar jaya. Sampai testing beberapa aplikasi standar, mulus dan nyaris tanpa cela. Fiuh, WM6 sukses dibenamkan.

Malam itu, wajah cerah menjadi milik pengguna BlueAngel di sana. Dan mungkin juga di seluruh dunia. Karena malam itu juga, source WM6 langsung di upload ke forum xda-developers.

Thank’s to all of You!

G4

Tentang Angka 7 (TUJUH)

Tepat tanggal 7 (TUJUH) April 2007 (dua ribu TUJUH), gue memesan sebuah rumah di daerah Pamulang. Sekitar 27 (dua TUJUH) km dari pusat kota Jakarta. Pilih-pilih blok, jatuh pilihan pada blok E 7 (TUJUH) di sebuah cluster yang paling dekat dari kantor pemasaran. Kenal perumahan ini, dari seorang teman di HTML. Kebetulan, gue juga anggota HTML bersticker 077 (kosong TUJUH-TUJUH).

Segera mengajukan KPR, dan 7 (TUJUH) hari kemudian disetujui. Mulai tanggal 17 (TUJUH belas) April 2007, rumah mulai dibangun. Setiap tanggal 17 (TUJUH belas) setiap bulannya, gue harus membayar cicilan uang muka rumah sebesar 7 (TUJUH) juta sekian. Mulai berkuranglah tabungan gue selama 7 (TUJUH) tahun bekerja.

Setelah beberapa bulan masa pembangunan, tepat hari ini, tanggal 27 (dua TUJUH) bulan 7 (TUJUH) tahun 2007, gue melakukan akad kredit. Jumlah kreditnya dominan angka 7 (TUJUH). Setiap bulannya akan didebet langsung dari rekening tabungan yang baru dibuat tanggal 17 (TUJUH belas) kemarin. Tapi sayang, sudah lebih dari 7 (TUJUH) hari ATM-nya belum jadi juga.

Komputer Tua Bisu

Lebih dari seminggu gue gak bisa mainan komputer di rumah. Setiap gue nyalain, cuma mampu menampilkan gambar jendela depan, lalu sekarat dengan error message kesalahan pada software atau hardware bla bla bla…

Awalnya gue pikir ini masalah klasik pada hardisk yang memang udah mati segan hidup tak mau. Hardisk ini juga gue pake cuma buat eksperimen kecil-kecilan. Jadi, kalo sesekali mati, wajar aja kali yee…

Ganti hardisk akhirnya gue lakuin. Tentu dengan hardisk yang original merk-nya, terjamin mutunya, dan banyak debunya. Terakhir gue pake hardisk ini, gak ada cacat sedikitpun. OS juga sudah terinstall dengan rapi.
Tapi sayang, dengan hardisk ini pun, komputer gue masih aja sekarat dengan error message yang gak jelas tadi. Ciri khas windows lah yaa.. ;-)

DEMN, berarti bukan hardisk. Gw mulai cari-cari kambing hitam lain. Yang paling ada motif adalah power supply dan memory. Pasalnya, dua benda itu punya kisah kelam masa lalu yang membuat gue pusing mikirin nasib hidup kompi tua renta ini saat itu.

Copot sana, copot sini. Bongkar sana, bongkar sini. Colek sana colek sini. Hasilnya selalu nihil. Mungkin bukan dua benda ini kali yaa. Secara gue masih bisa ke safe mode untuk sekedar ngeliat gambar buram, warna gak menarik, dan resolusi layar yang lebih kecil dari ponsel sekali pun. Berbeda dengan kisah dulu yang sama sekali gak mau nyala.

Hmm, perhatian gue beralih ke OS-nya. Coba ah, instal ulang! Maka, dengan sedikit semangat membara – udah jam 1-an -, sambil menahan kantuk karena seharian melotot di kantor, gw instal ulang jendelanya. Tapi malang nasibkuh malam ini. Instalasi gak mampu meneruskan proses pada titik 35%. Sepuluh kali ulang, tetep aja stuck di angka itu. Sebenarnya, kalo aja terhenti pada angka 68%, gue akan sedikit berbahagia. Tapi.. ah, sudahlah..

Gue harus cari kambing hitam lagi nih. Hmmm…., hardisk bukan, memory bukan, power supply bukan, OS juga bukan. Tinggal processor, soundcard, atau VGA?
Processor kayaknya susah untuk di-test. Lha, gimana ngetesnya? Trus, VGA kayaknya enggak juga. Monitor masih jelas menampilkan suasana dan isi komputer gue. Berarti tinggal soundcard.

Cari obeng kecil, putar ke kiri beberapa kali, dan lepas kabel audio. Hengkanglah souncard live! 5.1 ini dari slot PCI. Restart komputer, Jrenngg.. hilang semua message error tadi, instalasi windows juga berjalan lancar. Akhirnya, ketauan juga biang keladinya.

Dengan sedih, gue hempaskan soundcard yang sudah melayani gue 5 tahun lebih dengan suara digital surround ini. Partner yang udah teruji memberi kepuasan lahir dan bathin untuk main game dan nonton DVD. Kini, Altec Lansing di pojok-pojok ruangan pun hanya bisa diam membisu. Komputer tua ini jadi gagu sementara waktu.

DAMN, Pertamax Naik Lagi

Sejak 01 Juni 2007, harga pertamax naik lagi. Dari harga Rp 6.050/liter, menjadi Rp 6.400/liter. Padahal, harga sebelumnya juga belum lama berlaku. Bener-bener SUX!

Dengan demikian, sementara ini jenis minuman untuk kendaraan saya harus diubah dulu. Pada pengisian berikutnya, saya akan membeli Pertamax Plus. Tanggung, beda dikit doank!

Blackberry

BlackberryTebaran racun di milis Gadtorade bener-bener membuat saya memikirkan Blackberry. Apakah saya sudah membutuhkan gadget yang satu ini? Atau, haruskah saya mencoba kekuatannya?

Saat ini saya masih setia menggunakan Pocket PC bermesin HTC BlueAngel. Sudah beberapa tahun menggunakannya, dan belum bisa berhenti atau berpaling ke lain gadget. Kelengkapannya dalam mendukung mobilitas saya sudah teruji sepenuhnya. Apalagi setelah di-upgrade ke Magneto.

Salah satu kelengkapan yang paling sering saya gunakan adalah segala yang terkoneksi dengan internet. Browser, messenger, atau email client. Walau masih mengusung teknologi 2,5 G, -beuh, padahal sekarang udah jaman 3,5G-, tetap saja device ini sudah berhasil membuat saya ‘autis’. Dari serunya chatting, sampai membaca ratusan email dari groups favorit. Anteng, walau -mungkin- ada badai datang… ;)

Kecintaan saya terhadap device ini agak tergoyahkan untuk selintas melirik teknologi lain yang mempromosikan kemudahan beremail. Blackberry. Sebenarnya saya sudah mengenal blackberry sejak awal teknologi ini mulai beredar di Indonesia. Seorang rekan memperkenalkan mesin blackberry, saat dia ditugaskan untuk mencoba layanan ini dengan salah satu provider di sini. Saat itu, alat yang dikembangkan oleh perusahaan Canada yang bernama Research In Motion (RIM), sama sekali tidak menggugah rasa penasaran saya. Walau dengan teknologi push emailnya itu sekalipun. Bentuk dan tampilan layarnya bisa menjadi salah satu penyebab. Kaku dan tidak menarik.
Continue reading

Dan, Keputusannya Adalah..

Tiga bulan berputar-putar di berbagai tempat di pinggiran Jakarta, akhirnya saya bisa memutuskan lokasi yang tepat untuk dijadikan rumah tinggal. Vila Dago Pamulang. Saya memang sempat mencoret perumahan ini di awal survey beberapa bulan lalu. Alasannya, waktu itu masih terkaget-kaget dengan jarak dan akses yang dilalui.

Belajar dari setiap perumahan yang saya datangi, terbiasa dengan survey jarak jauh, akses yang bervariasi, sampai harga dan spek rumah, rasanya Vila Dago memang jadi pilihan yang pas untuk saya, saat ini.

Saya sempat mendatangi beberapa perumahan yang memiliki harga serupa. Yaaa, harga menjadi patokan pertama saya dalam mencari rumah. Dari harga, dilanjutkan dengan survey lokasi, spesifikasi bangunan, serta lingkungan dan akses jalan.

Pertama, harga. Dengan dana sedikit, saya tidak berharap mendapat rumah besar di Menteng atau Pondok Indah :-D . Di Vila Dago, lahan seluas 120 meter sudah dapat dibayar dengan dana yang saya miliki. Bila dibandingkan dengan harga perumahan di Depok dan Bekasi pun, dengan tipe yang sama, harga bisa lebih murah.

Kedua, lokasi. Lokasi yang saya maksud adalah posisinya dengan tempat saya bekerja dan bersosialisasi. Jarak memang masih terbilang jauh dengan lokasi saya bekerja. Namun, bila diperhitungkan dengan aktivitas sosialisasi -yang banyak di Selatan Jakarta-, Pamulang menjadi lebih efisien dibanding Bekasi/Pondok Gede. Pada detik terakhir sebelum memutuskan membeli di Vila Dago, saya sempat bimbang memilih dan membandingkan dengan Jatisari Permai di Pondok Gede. Sampai-sampai saya harus jalan dari Pamulang ke Pondok Gede untuk lebih memantapkan pilihan. Perjalanan pulang dari Jatisari, melalui jalan yang masih gelap, sepi, dan pemandangan yang basi di Kalimalang. Coba bandingin dengan Mahakam atau Barito.. ;)
Continue reading

Isi Kepala Bos

Belakangan ini, suasana kantor membuat saya sering bertanya-tanya sendiri. Segalanya seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Jungkir balik dari keadaan semula. Kadang mendekat, kemudian lari menjauh. Hilir mudik tak tentu arah. Entah sudah berapa minggu kondisi ini berlangsung. Yang jelas, saya mulai memikirkannya sejak seminggu yang lalu.

Tahun lalu, sebuah penerbit kartu kredit terkenal di negara Paman Sam bergabung. Dan sejak itu, saya memiliki dua orang bos. Bos pertama, lebih dari setahun telah setia ‘menyuruh’ saya. Sebut saja namanya Bences. Sebenarnya beliau ini berada dua level di atas saya. Karena orang yang satu level di atas saya mengundurkan diri, dia langsung ambil alih tampuk pimpinan. Bos kedua, datang dari penerbit kartu kredit yang baru bergabung. Dia ini memang diposisikan sebagai pengganti bos lama yang mengundurkan diri. Sebut saja namanya Ances.

Awalnya, saya senang dengan keberadaan si Ances. Dia terlihat fair dalam mengkoordinasikan bawahannya. Jalan pikirnya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Supel dan hampir humoris. Hampir. Sifatnya seperti kebalikan dengan si Bences. Bences ini orangnya pikun, paranoid, pelit, dan hampir tidak menghargai pendapat bawahan.
Continue reading

Rumah.. Rumah.. Rumah

RumahBeuh, gak nyangka, udah sebulan gue gak ngeblog. Gak berasa juga sebulan ini penuh banget lika dan liku aktivitas, perjalanan, sampe kondisi tubuh yang grafiknya turun abis.

Bulan lalu, gw menargetkan waktu untuk survey perumahan harus diselesaikan sebelum akhir Maret. Maunya sih, bulan April gue udah bisa mutusin beli rumah yang mana, di daerah yang mana, dan dengan uang berapa.

BINTARO

Melanjutkan target pertama di daerah Pamulang, seharusnya target kedua adalah Depok. Namun, pada Sabtu pertama bulan Februari, kebetulan ada undangan pernikahan temen kampus ke daerah Bintaro. Jadilah gue mengubah arah survey ke daerah Bintaro. Dari seluruh sektor yang ada, sampai ke daerah Jombang gue datengin setiap perumahan baru. Kebetulan, gue sempet pegang brosur perumahan Puri Bintaro Indah yang punya harga pas sesuai kantong. Tapi sayang, setelah melihat kondisi perumahan yang kayaknya tidak dibuat dengan rapi, gue harus mengubur niat gue untuk beli di sana.
Continue reading

SAFETY RIDING COURSE

Sebuah perusahaan Jepang yang beroperasi di kawasan industri di Jawa Barat, meminta kami untuk memberikan Safety Riding Course (SRC) kepada 50 orang karyawannya. Bersama rekan-rekan HTML yang tergabung dalam HTML Safety Riding Team (HSRT), siap memberikan training singkat tentang safety riding di perusahaan yang menyandang nama PT. SUMCO.

Segala persiapan mulai dilaksanakan. Meeting pun segera digelar. Persiapan yang mendapat jatah waktu satu bulan, rasanya terlalu cepat. Mengingat semua anggota team juga memiliki kesibukan di kantornya masing-masing. Meeting-meeting awal hanya bisa dilakukan pada saat weekend. Itu pun sulit sekali mengadakan pertemuan dengan full team. Sehari-hari diskusi hanya melalui milis. Menjelang minggu terakhir, barulah meeting mulai gencar dilakukan. Hampir setiap hari, after office hour, kami selalu menyempatkan bertemu untuk lebih menguatkan seluruh skema training ini. Dari materi, instruktur, peralatan pendukung, sampai perhitungan budget makan-makan. ;)

Hari yang ditentukan telah tiba. Sabtu pagi (20/01/2007), HSRT, dengan dua mobil dan 10 motor berangkat menuju lokasi. Semua anggota team sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Saya sudah siap dengan jadwal acara yang sudah dipersiapkan dengan matang.
Sekitar pukul 07.00 team mobil sudah sampai. Dan, setelah memeriksa segala sesuatunya, acara dimulai pukul 08.00.
Continue reading

Blue Angel dengan Magneto

Today05Basbang mungkin, bagi sebagian orang. Tapi melakukan upgrade ROM untuk windows mobile sudah menjadi cita-cita saya sejak beberapa tahun lalu. Kala itu, saya masih menggunakan windows mobile Himalaya. Ketika mengakses forum developers, pelajaran tentang mengubah versi ROM Himalaya semakin banyak didapat. Dari upgrade ke WM2003SE sampai WM2005. Untuk melakukannya? Nanti dulu. Niatnya sih menunggu garansi habis.

Belum habis masa garansi Himalaya, saya sudah terlanjur jatuh cinta pada varian HTC selanjutnya. Blue Angel. Saat itu, developers semakin meningkatkan kinerja dari WM2005 dengan AKU (Adaptation Kit Update)-nya. Kenginan itu semakin kuat. Download source-nya pun mulai saya lakukan. Lagi-lagi masalah garansi membuat saya menunda niatan itu. Oh iya, kenapa masalah garansi ini jadi ganjalan? Terdengar kabar bahwa bila device kita rusak karena masalah upgrade ROM atas keinginan sendiri, garansi hangus. Dan resiko dari upgrade ROM ini juga tidak main-main. Bila ada interupsi sedikit saja pada saat proses upgrade berlangsung, device bisa mati total. Tidak seperti instalasi PC, bila gagal mungkin kita bisa format ulang, masalah beres. Instalasi ROM baru ini juga sangat disarankan menggunakan notebook atau PC dengan UPS. Apabila tanpa diduga listrik mati, PC tidak ikutan mati dan tidak menghentikan proses upgrade.
Continue reading